24 Januari 2020 Malam
Sabtu ( 20. 40 WIB)
Sebenarnya
aku punya banyak cerita dibulan Januari, bulan libur untukku. Bulan Januari bulan penuh suka dan
cita. Memang aku berharap sekali dapat berlibur ria ke suatu tempat yang
membuatku bahagia senang untuk melepas semua penat yang melandaku di
bulan-bulan sebelumnya. Tapi harapanku nyatanya tidak sesuai ekspetasi, ini
sering terjadi begitu saja. Aku sedikit kecewa. Jadi apa sebenarnya aktivitasku
selama liburan ini ? adakah seseorang yang kepo?.
Oke, jadi aku banyak diam dirumah
:D, engga diem terus sih, aku banyak melakukan sesuatu yang tidak sering aku
lakukan sebelumnya, dan itu cukup menyenangkan, nonton drama korea, baca buku
novel, buat bola-bola susu untuk di jual di sekolahan, dan terakhir hal yang
setiap hari paling sering dilakukan adalah beres-beres rumah.
Mungkin aku lah satu-satunya anak
dari orang tuaku yang selalu berusaha paham atas situasi dan kondisi orang
tuaku, aku tidak lagi harus menuntut setiap keinginanku dapat dan harus
terkabulkan pada saat itu juga. Selama kebutuhanku masih dapat terpenuhi dengan
baik, aku cukup bersyukur. Dan terus berdoa agar suatu saat harapan dan
keinginanku dapat tercapai.
Penilaian, ini tentang suatu nilai,
menurutmu apa itu nilai ?, mengukur seberapa jauh pemahaman kita tentang apa
yang telah dipelajari?. Ya nilai yang autentik itu sulit. Nilai angka itu hanya
sebuah symbol yang menandakan bahwa kita telah belajar dan memahami apa yang
telah kita pelajari. Aku yakin tidak sepenuhnya orang yang telah belajar dalam
waktu system kebut semalam kemudian keesokan harinya dia ujian dengan modal
percaya diri dan yakin dia bisa menjawab setiap soal, aku pun yakin kemungkinan
besar dia akan mendapat nilai yang baik atau diatas rata-rata, tapi setelah
ujian berakhir dan dia tidak me repeat apa yang telah dia pelajari, mungkin
semuanya akan ambyarr, dia akan lupa, kemampuan memahami pada saat ia belajar
hanya tersimpan di short term memori. Aku fikir semua temanku hampir 80% masih
melakukan metode belajar SKS. Termasuk dengan aku yang tertular oleh kebiasaan
teman-temanku.
Dosen tidak paham kondisi psikologis
mahasiswa ketika sedang mengerjakan soal, Terdapat dosen yang tidak akan peduli
dengan keadaan itu, Dosen hanya menganggap kami semua dalam keadaan baik. Dosen
yang tidak peduli kebaikan mahasiswa nya berlaku untukku, dosen yang tidak menilai
mahasiswa dengan hanya sesuai nilai pada saat kemampuan mengerjakan soal UAS,
penilaian ke 3 aspek ku rasa tidak dilakukan oleh dosen. Aku Sastria PJ mata kuliiah IPBA mendapat
nilai C. Aku akui aku kurang beruntung, kurang focus dan dibuat bingung dengan
soal UAS PG di Google Form yang dibuat Pak D, tidak tau apa yang terjadi
mengapa aku tidak dapat mengerjakan dengan baik, padahal aku akui soal itu
tidak terlalu sulit, mungkin karena waktu hari itu aku ujian dua matkul, matkul
elektronika digital, aku lebih banyak belajar matkul tersebut disbanding matkul
IPBA. Aku tidak tau apakah aku harus merasa adil atau tidak, dirugikan atau
tidak. Tapi aku berusaha untuk bertawakal kepada Allah, karena sejatinya orang
yang bertawakal kepada Allah akan Allah berikan dia keberuntungan ( Q.S Al Imran
: ). Tapi Rasanya aku tak kuasa melihat
IPK di ambang kehancuran, Penurunan drastis IPK membuatku merasa disconsolate
(putus asa, tidak senang, kecewa). Ini membuat fikiran ku berjalan-jalan di
atas hinaan yang keluar dari diriku untuk diriku. Bagaimana mungkin semua
terjadi begitu saja. Aku perbanyak istigfar dan mencoba mencari semangat untuk
mengubur semua perasaan negative yang muncul. Aku Ingat Kakakku baru saja
mengatakan IPK itu ada dirutan terbawah dalam kunci kesuksesan, yang pertama
itu adalah jujur, disiplin, kemampuan social, kemampuan memimpin dll, that’s
right, urutan ter atas dalam kunci kesuksesan adalah sikap. Jadi kondisi ini
akan teratasi jika aku menghadapinya dengan sikap yang baik
Dan usahaku dalam rangka memperbaiki
keadaan yang telah terjadi adalah focus melakukan segala kesibukanku dirumah,
salat dan mengaji yang rajin, menambah hafalan surat-surat di juz 30 dan
mencoba membuat tulisan buku ajaib. Buku ajaib yang ku maksud adalah buku
tentang motivasi-motivasi dari diri sendiri untuk diri sendiri. Kenapa aku
membuat buku semacam itu ? , karena motivasi yang paling baik katanya berasal
dari diri kita sendiri, meyakini fikiran diri sendiri akan mendorong kita
beritindak sesuai apa yang telah kita fikirkan, jadi menurutku hal ini tepat
aku lakukan disaat aku down. Isinya aku tulis tentang kalimat-kalimat yang
menggugah semangatku dalam meraih pencapaian cita-cita dan harapan terus aku
juga tulis ayat-ayat alqur’an tentang ayat motivasi sebagai motivasi yang Allah
berikan kepadaku. Sekarang tekadku sudah bulat dan tidak akan kembali ke lubang
yang sama, aku mau aku berhasil mengkatkan kembali IPK ku, aku tak akan goyah
aku yakin bisa mampu melakukan semuanya dengan baik.
Satu lagi cerita yang perlu aku
abadikan disini, tiba-tiba ketika aku merenung memikirkan apa yang harus aku
lakukan dalam kondisiku yang tidak enak untuk dirasakan kedua kalinya,
menurutku ini lebih parah dari sakit fisik karena kecapean ( lebay beu) karena
sakit fisik yang lelah itu akan cepat terobati jika langsung minum vitamin,
makan yang banyak dan istirahat yang cukup. Tapi ini soal sakit batin merasa
sakit hati sampai kerelung jiwa, fikiran melayang dihantui kecemasan dan
gelisah, bahkan mungkin jika tidak kuat iman bisa sampai bunuh diri
(Naudzubillah) untung imanku kuat. Jadi aku menganalogikan kondisiku saat ini,
seperti halnya aku yang sejak awal melakukan perjalanan yang panjang dengan
melintasi jembatan kaca yang paaaaanjang sekali, sejak awal aku meyakini bahwa
aku tak perlu cemas dan hanya terus berjalan lurus saja sambil menatap langit
yang indah, tidak ku tatap ke dasar kaca karena takut, hingga pada saat
waktunya aku sampai di tengah perjalanan, dan disinilah kondisiku sekarang,
badai angin menerpa membuatku tiba-tiba sangat cemas dan keyakinanku yang
kubangun dari awal untuk dapat terus berjalan hingga sampai pada titik tujuan
seakan roboh begitu saja, begitu hebatnya cobaan ini sampai lupa dan tidak
percaya pada diri sendiri. Jadi fikiranku bergejolak dengan rasa gelisah
memilih untuk melanjutkan perjalanan ini atau aku akan berbalik arah seakan
menyerah begitu saja untu kembali memulai ke titik awal. Tapi di ujung sana aku
melihat orang-orang yang mendukung dan berjuang demi proses pencapaian kesuksesanku.
Disinilah rasa iba, rasa sedih atas kondisiku mulai tak terbendung. Aku tidak
harus membuat mereka yang berjuang demi pencapaian kesuksesanku berlama-lama
menunggu dan terus-menerus berjuang untuk mendukungku kembali. Dan disinilah
keberanianku muncul dan melanjutkan kembali perjalananku untuk sampai di titik
tujuan yaitu kesuksesan. Dan sekarang aku berada dalan proses pencapaian menuju
kesuksesan, tekadku adalah proses ini akan aku lakukan dengan sebaik mungkin,
kerja keras, rajin belajar, tidak malas dan tetap semangat.