Jumat, 19 Juli 2019

Makalah Perawatan Alat Laboratorium IPA



FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN ALAT LABORATORIUM, JENIS-JENIS DAN KRITERIA PERAWATAN ALAT LABORATORIUM
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Laboratorium





Dosen Pengampu :
Drs. Yudi Dirgantara, M.Pd.
Disusun oleh :


Kelompok 09
Rifqi Asril Nurrochman                        (1172070066)
Sastria Nurul Zahra                              (1172070072)
         Tazki Amalia Subia P                            (1172070076)

Kelas/Smt: B/II


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018


DAFTAR ISI






DAFTAR GAMBAR



 

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang




Pembelajaran IPA pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, baik sikap ilmiah, proses ilmiah, maupun produk ilmiah. Prinsip-prinsip ilmiah tersebut dijiwai oleh inkuiri atau penemuan. Dengan demikian pembelajaran sains tidak pernah lepas dengan kegiatan inkuiri. Dalam kegiatan pembelajaran IPA berdasarkan inkuiri, Peserta Didik dilatih untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan ilmiah, misalnya mengamati, menyusun hipotesis, merancang eksperimen, maupun menarik kesimpulan.

Laboratorium adalah tempat untuk melaksanakan kegiatan praktik yang mendukung pembelajaran dikelas. Agar bekerja dilaboratorium merasa aman dan nyaman maka laboratorium berikut sarana lainnya perlu dikelola dan dirawat secara rutin, sehingga dapat berfungsi seoptimal mungkin sebagai sumber belajar. Untuk melakukan pemeliharaan dan perawatan prasarana laboratorium , khususnya alat praktikum Fisika , diperlukan beberapa prasyarat pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan Alat-alat praktikum Fisika tersebut. Rendahnya tingkat perawatan alat dan bahan praktikum Fisika menyebabkan kerusakan alat, yang berdampak kurang baik pada efisiensi keuangan, keamanan, dan keselamatan kerja serta semangat kerja dilaboratorium. Dengan demikian makalah ini disusun untuk membahas bagaimana ruang lingkup dalam perawatan alat-alat laboratorium khususnya laboratorium Fisika. 

B.     Rumusan Masalah 

1.      Apa yang dimaksud dengan perawatan dan jenis-jenis perawatan ?
2.      Apa saja faktor yang menyebabkan kerusakan alat-alat laboratorium?
3.      Bagaimana kriteria perawatan laboratorium ?

C.    Tujuan


Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini,
1.      Untuk mengetahui pengertian perawatan dan jenis-jenis perawatan laboratorium 
2.      Mengetahu faktor – faktor yang menyebabkan kerusakan alat-alat laboratorium.
3.      Mengetahui kriteria perawatan laboratorium . 

PEMBAHASAN


A.    Pengertian Perawatan 

Perawatan atau pemeliharaan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan dengan sadar untuk menjaga agar suatu alat selalu dalam keadaan siap pakai, atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada kondisi alat dapat berfungsi kembali. Perawatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi yang baik dan siap pakai. Dalam kaitannya dengan perawatan peralatan laboratorium, perawatan yang dilakukan sebagai usaha preventif atau pencegahan agar peralatan tidak rusak atau tetap terjaga dalam kondisi baik, siap beroperasi. Disamping itu perawatan juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menyetel atau memperbaiki kembali peralatan laboratorium yang sudah terlanjur rusak atau kurang layak sehingga siap digunakan untuk kegiatan praktikum siswa. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 9)

B.     Jenis Perawatan


Pada umumunya perawatan dibagi atas dua bagian, yaitu perawatan terencana dan perawatan tak terencana. Perawatan terencana (planned maintenance) didefinisikan sebagai proses perawatan yang diatur dan terorganisikan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap peralatan diwaktu yang akan datang. Di dalam perawatan terencana, terdapat dua unsur pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Perawatan terencana adalah sistem pengorganisasian perawatan atau program perawatan yang dikelola dengan cara yang efektif. Perawatan terencana merupakan bagian dari sistem manajemen perawatan yang terdiri atas perawatan preventf  (preventive maintenance), perawatan prediktif ( predictive maintenance, dan perawatan korektif (corrective maintenance)

1.      Perawatan Terencana 
Perawatan terencana adalah jenis perawatan yang diprogramkan, diorganisir, dijadwalkan, dianggarkan dan dilaksanakan sesuai rencana, serta dilakukan monitoring dan evaluasi. Perawatan terencana dibedakan menjadi dua, yakni: perawatan preventif, dan perawatan terencana yang bersifat korektif

a.       Perawatan Preventif 
Perawatan preventif adalah perawatan yang dilakukan pada selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya. Tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen tidak memenuhi kondisi normal. Pekerjaan yang dilakukan adalah mengecek, melihat, menyetel, mengkalibrasi, melumasi (pengisian minyak atau air), atau pekerjaan lainnya yang bukan penggantian suku cadang berat. Perawatan preventif membantu agar alat dapat bekerja dengan baik sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan pabrik pembuatannya.

Perawatan preventif merupakan perawatan yang bersifat pencegahan, adalah sitem perawatan peralatan laboratorium yang secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan , pengorganisasian, pelaksanaan, serta monitoring dengan tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan atau kerusakan peralatan laboratorium. Perawatan preventif lebih dikenal dengan istilah servis, yaitu melakukan semua pemeriksaan dan pengaturan sesuai dengan petunjuk, misalnya tentang pelumasan untuk alat-alat dari logam, contohnya engsel yang terdapat pada mikroskop, dan pekerjaan lainnya termasuk pemerikasaan terhadap indikator kinerja setiap alat.

Semua pekerjaan  yang masuk dalam lingkup perawatan preventif , dilakukan secara rutin dengan berdasarkan pada hasil kinerja alat yang diperoleh dan pekerjaan perawatan prediktif atau adanya anjuran dari pabrik alat tersebut. Apabila perawatan preventif dikelola dengan baik , maka akan mendapatkan informasi tentang kapan mesin diganti sebagian besar komponennya.

b.      Perawatan Korektif 
Perawatan korektif merupakan perawatan yang bersifat koreksi, yakni sistem perawatan peralatan laboratorium secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, serata monitoring dengan tujuan untuk mengembalikan peralatan laboratorium pada kondisi standar , sehingga berfungsi normal

2.      Perawatan Tidak Terencana 
Perawatan tidak terencana adalah jenis perawatan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Pekerjaan perawatan ini tidak direncanakan, dan tidak dijadwalkan. Umumnya tingakat kerusakan yang terjadi adalah pada tingkat kerusakan berat. Karena tidak direncanakan sebelumnya, maka juga disebut perawatan darurat. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 10-12) 

C.    Tujuan Perawatan Laboratorium 

Tujuan perawatan terencana terhadap alat-alat labororatorium diantaranya:

1.      Perawatan laboratorium selalu prima, dan siap pakai secara optimal. Hal tersebut untuk mendukung kegiatan kerja, sehingga diharapkan akan memperoleh hasil yang optima pula. 
2.      Memperpanjang umur pemakaian peralatan laboratorium. Hal tersebut sangat penting terutama jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli satu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut.Walaupun disadari bahwa kadang-kadang untuk jenis barang tertentu, membeli dapat lebih murah jika alata yang akan dirawat sudah demikian rusak. 
3.      Menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan orang atau siswa yang menggunakan peralatan tersebut. 
4.      Menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama dalam keadaan darurat, adanya unit cadangan, pemadam kebakaran, dan penyelamat. 
5.      Menjamin kelancaran kegiatan pembelajaran
6.      Mengetahui kerusakan secara dini atau gejala kerusakan 
7.      Menghindari terjadinya kerusakan secara mendadak 
8.      Menghindari terjadinya kerusakan fatal (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 13)

D.    Sistem Perawatan Laboratorium


Dalam perawatan Laboratorium, sebelum penyusunan jadwal dan rencana kebutuhan biaya perawatan perlu dilihat unsur-unsur berikut ini:

1.      Obyek Perawatan Laboratorium

Sebagai obyek laboratorrium yang perlu dilakukan perawatan diantaranya adalah :

a.       Ruang laboratorium, termasuk kebersihan lantai, kelembaban, ventilasi, dan penerangan. 
b.      Perabotan atau meubeler laboratorium, seperti lemari, meja percobaan, meja kerja, rak dan kursi.
c.       Peralatan administrasi dan dokumentasi laboratorium, seperti komputer dan filenya, serta buku-buku manual. 
d.      Sumber jaringan listrik, stop kontak, sekring dan lampu
e.       Peralatan praktikum dan perlengkapan percobaan
f.       Instrumen dan alat-alat ukur 
g.      Spesimen dan bahan-bahan untuk praktikum

2.      Sumber Daya Sistem Perawatan Laboratorium

a.       Tenaga Laboran/Teknisi (man)

Tenaga laboran/ teknisi mempunyai tanggung jawab dalam merawat laboratorium yang dikelolanya. Salah satu tugas seorang laboran/ teknisi adalah meliputi pekerjaan seperti menjaga, menyimpan, membersihkan, memelihara, memeriksa, menyetel kembali, bahkan bila perlu dan dibutuhkan dapat melakukan penggantian dan perbaikan komponen peralatan Laboratorium yang rusak. 

Untuk peralatan khusus dengan tingkat kerusakan yang sudah parah, dimana perbaikannya juga memerlukan kemampuan profesional yang khusus, maka dapat memanfaatkan tenaga teknisi ahli dari luar. Misalnya untuk perbaikan peralatan ukur optik, peralatan ukur elektronik, yang kontruksinya sangat rumit. 

Untuk pekerjaan perawatan yang ringan dan rutin dapat melibatkan siswa. Misalnya dalam menjaga kebersihan ruang dan tempat praktik, menjaga kebersihan peralatan, dan membantu dalam penyimpanan peralatan. Untuk keperluan pencegahan terhadap kemungkinan kerusakan akibat kesalahan pemakaian harus sekaligus sebagai upaya pembinaan tanggung jawab siswa, diberikan peraturan dan tata tertib penggunaan peralatan laboratorium.

b.      Biaya Perawatan

Perawatan membutuhkan biaya, bahkan kadang-kadang biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan perawatan sangat mahal. Biaya perawatan dibutuhkan untuk berbagai hal, antara lain:

1)      Biaya pembelian bahan-bahan untuk perawatan, seperti sabun, carbol, kain lap, perekat, cat, bahan pengawet, pencegah jamur dan sebagainya.
2)      Biaya pembelian suku cadang, seperti kran air, kabel, mur baut, lensa optik, dan sebagainya. 
3)      Biaya pembelian perawatan, seperti : sapu, sikat , sulak, kuas, solder, tang, obeng, gunting, dan sebagainya. 
4)      Upah tenaga perawatan jika perlu, khususnya apabila pekerjaan terpaksa harus mengundang pihak luar, misalnya ahli komputer.
Biaya perawatan diatas perlu dihitung dan dimasukkan dan usulan anggaran, sehingga tersedia dana untuk perawatan laboratorium secara rutin.

c.       Bahan Perawatan (materials)

Yang dimaksud bahan perawatan adalah seluruh jenis bahan yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan perawatan peralatan laboratorium. Bahkan untuk pekerjaan perawatan ini harus tersedia dengan jumlah yang memadai, karena bahan ini merupakan salah satu sumber daya yang sangat mendesak atau penting untuk perawatan semua peralatan semua laboratorium. Bahan yang dibutuhkan untuk pekerjaan perawatan peralatan laboratorium, antara lain:

1)      Bahan untuk pekerjaan kebersihan, seperti sabun, carol, kain lap, thinner, bahan pembersih alat-alat laboratorium, tempat sampah, kantong plastik, dan bahan pembersih lainnya. 
2)      Bahan untuk pemeliharaan, seperti: bahan pengawet, minyak pelumas, bahan pelapis, bahan pelindung, pembungkus, pupuk tanaman dan makan hewan, pembasmi serangga, dan sebaginya 
3)      Suku cadang, seperti: kran air, kabel mur baut, dan sebagainya.

d.      Peralatan Perawatan (machines) 
              Tersedianya alat-alat perawatan merupakan sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk melakukakn pekerjaan perawatan laboratorium. Apabila laboratorium memliki peralatan perawatan lengkap akan sangat mendukung terlaksanaya program perawatan laboratorium. Peralatan untuk pekerjaan perawatan, tergantung dari jenis sarana atau fasilitas yang dirawat serta jenis kegiatan perawatannya.

Peralatan perawatan laboratorium antara lain meliputi perawatan untuk:

1)      Peralatan penyimpanan, misalnya lemari, rak dan laci 
2)      Peralatan pemeliharaan, misalnya alat pelumas dan alat pelapis 
3)      Peralatan pemeriksaan, misalnya instrumen pengukuran 
4)      Peralatan penyetelan/pengoperasian kembali
5)      Peralatan perbaikan

Peralatan perawatan yang sifatnya umum, sederhana, dan secara rutin sering dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan perawatan peralatan sebaiknya dimiliki oleh setiap laboratorium.

e.       Cara perawatan (methodes)

Cara atau metode untuk melakukan pekerjaan laboratorium yang dapat dilakukan anatara lain dengan cara:

1)      Melakukan pencegahan, misalnya dengan memberi peringatan melalui gambar atau tulisan, peraturan tata tertib bagi pengguna laboratorium, dan memberi bahn pengawet. 
2)      Menyimpan, misalnya menyimpan peralatan laboratorium agar terhindar dari kerusakan 
3)      Membersihkan, agar peralatan laboratorium selalu bersih dari kotoran yang dapat merusak, misalnya debu dan uap air yang dapat menyebabkan terjadinya korosi. 
4)      Memlihara, misalnya dengan melumasi peralatan mekanis, dan memberi makan hewan percobaan. 
5)      Memeriksa atau mengecek kondisi peralatan laboratorium untuk mengetahui adanya gejala kerusakan. 
6)      Menyetel kembali tune-up, kalibarasi alat agar fasilitas atau peralatan dalam kondisi normal atau standar. 
7)      Memperbaiki kerusakan ringan yang terjadi pada peralatan laboratorium pada batas tingakat kerusakan tertentu yang masih mungkin dapat diperbaiki sendiri, sehingga siap dipakai untuk praktikum siswa. 
8)      Mengganti komponen-komponen peralatan laboratorium yang rusak

f.       Waktu Perawatan (minutes)

Waktu untuk perawatan peralatan laboratorium dapat dilihat dari tersedianya kesempatan atau waktu bagi pihak yang dilibatkan dalam kegiatan perawatan dan pemamfaatan kesempatan tersebut secara efektif dan efisien untuk melaksanakan kegiatan perawatan. Dari sisi obyek yang dirawat, jadwal pelaksanaan pekerjaan perawatan laboratorium dapat ditetapkan berdasarkan pada:

1)      Berdasarkan pengalaman lalu dalam suatu jenis perawatan alat yang sama. Diperoleh pengalaman mengenai selang waktuatau frekuensi untuk melakukan perawatan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko kerusakan alat tersebut. Bagi laboran/teknisi yang telah berpengalaman dalam melakukan tugas perawatan peralatan laboratorium akan banya memiliki informasi untuk membantu dalam menyusun jadwal perawatan.

2)      Berdasarkan sifat operasi atau beban pekaian atau penggunaan laboratorium. Untuk obyek atau lat yang sering digunakan pada kegiatan praktikum dan pemakainya banyak orang, maka obyek atau alat tersebut akan cepat kotor atau rusak. Untuk menjaga agar tetap bersih dan menghindari kerusakan, mestinya jadwal perawatannya harus dibuat tinggi frekuensinya yang berarti obyek atau alat tersebut harus sering dilakukan perawatan.

3)      Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat peralatan yang dimiliki laboratorium.Peralatan laboratorium yang baru dibeli dari pabrik biasanya dilengkapi dengan buku manual
yang memuat petunjuk operasi dan cara serta jadwal perawatan alat tersebut. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan dalam menyusun jadwal perawatan.
 (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 14-20)

E.     Faktor –Faktor yang Menyebabkan Kerusakan Alat-Alat Laboratorium


Faktor–faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat –alat laboratorium diantaranya:



a.      Perubahan temperatur

Beberapa jenis alat–alat labolatorium peka terhadap perubahan temperatur. Temperatur yang tinggi menyebabkan alat-alat memuai, tetapi kadang-kadang pemuaian tidak teratur sehingga bentuk alat-alat akan berubah dan menyebabkan fungsi alat-alat itu berubah pula. Temperatur ruangan yang cukup tinggi dapat memicu terjadi oksidasi, merusak cat, merusak alat-alat elektronika karena komponen elektronika mempunyai batas kerja normal pada rentang temperatur tertentu. Keadaan temperatur yang terlalu rendah juga mempunyai akibat yang serupa. Misalnya alat-alat ukur, seperti gelas ukur, buret, pipet. Alat-alat tersebut tidak boleh dipanaskan.

b.       Kelembaban udara

Udara mengandung oksigen dan uap air (kelembaban). Kandungan ini memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya seperti tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena udara bebas adalah dengan cara mengecat, memoles, melapisi dengan vernis serta melapisi dengan khrom atau nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi. Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas antara lain timbulnya zat baru, terjadinya endapan, gas dan panas. Dampak dari bahan kimia yang tidak berfungsi lagi dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan..

Berbagai alat seperti mikroskop yang peka terhadap lingkungan, misalnya terhadap kelembaban, didaerah yang dingin atau di daerah yang lembab penyimpanan alat harus hati-hati, karena pada daerah lembab bila alat disimpan dalam lemari kemungkinan besar akan ditumbuhi jamur. Lensa harus diaga jangan sampai berjamur. Lensa obyektif dan okuler cepat berjamur di daerah lembab. Salah satu cara mencegah pengaruh kelembaban di lemari penyimpanan dipasang lampu listrik, sehingga udara dalam lemari menjadi lebih kering. Mikroskop haru disimpan dalam kotaknya dan diberi zat absorpsi (silika gel).

c.       Debu atau kotoran

      Debu atau kotoran salah satu penyebab rusaknya alat. Suatu alat secara terus menerus terkena debu dan jarang dibersihkan akan mudah rusak. Misalnya neraca tidak disimpan dilemari tetapi disimpan di ruang terbuka, dapt berkibt piring neraca berdebu dan bernoda sehingga dapat berakibat neraca menjadi tidak seimbang

d.      Air dan Asam – Basa

Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih, jauh dari air, asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat menyebabkan kerusakan alat seperti berkarat, korosif dan berubah fungsinya. Bahan kimia yang bereaksi dengan zat kimia lainnya menyebabkan bahan tersebut tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat baru, gas, endapan, panas serta kemungkinan terjadinya ledakan. Dalam laboratorium terdapat zat-zat kimia. Beberapa zat kimia terutama yang korosif dapat mempengaruhi atau merusak alat. Oleh karena itu zat-zat kimia harus disimpan berjauhan dari alat-alat, terutama alat-alat yang terbuat dari logam. Alat-alat yang
menggunakan baterai kering bila selesai digunakan baterai harus dikeluarkan, dan alat harus disimpan dalam keadaan
turn of (sleep). Misalnya: pH-meter, komparator lingkungan.

Air akan mempercepat rusaknya alat-alat kimia, oleh karena itu simpanlah alat dalam keadaan kering. Tempatkan alat dalam tempat yang kering. Zat kimia yang bersifat asam dan basa mempunyai daya rusak yang lebih hebat dari air. Hindarkan alat-alat kimia dari sentuhan cairan asam dan basa ini. Akibat dari tutup botol masing-masing zat yang berdekatan tidak rapat, maka pertemuan uap asam klorida (HCl) dengan uap ammonia, (NH4OH) akan bereaksi menghasilkan uap ammonim klorida ( NH4Cl) yang dapat merusak alat alat dari logam.

Cara yang paling baik untuk mencegah kerusakan alat-alat yang disebabkan oleh asam, ialah mengisolir asam itu sendiri. Misalnya menempatkan botol asam yang tertutup rapat dan ditempatkan dalam almari khusus atau di almari asam yang selalu terdapat di setiap laboratorium kimia. Pengaruh basa terhadap alat kimia sama dengan
pengaruh asam. Maka pencegahannya tidak berbeda dengan pengaruh asam. Demikian pula cairan kimia di luar asam, basa maupun air dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat kimia

e.       Mekanis

      Alat – alat labolatorium memiliki cara penggunaan yang kompleks dan diperlukan keahlian dalam menggunakannya sehingga apabila terjadi kesalahan dalam pengguanaan dapat menyebabkan kerusakan pada alat. Apabila penggunaan pada alat tidak sesuai dengan semestinya.

f.       Cara penyimpanan

      Cara penyimpanan alat – alat labolatorium yang salah dan kurang tepat akan menyebabkan peralatan labolatorium mengalami kerusakan. Dalam penyimpanan alat perlu diperhatikan bahwa alat yang terbuat dari logam harus dipisahkan dari alat yang terbuat dari gelas. Beberapa

 alat yang diset dan terdiri dari alat logam dan kaca, misalnya Respirometer Sederhana, dan Potometer. Selain alat itu sendiri, dibutuhkan standarnya. Setiap alat yang terkombinasi dari logam-kaca, sedapat mungkin dalam penyimpanannya dipisahkan, pada waktu hendak dipakai barulah dipasang atau diset. Magnet jangan disimpan dekat alat-alat yang sensitif pada magnet. Stopwatch dapat kehilangan kestabilan bila disimpan berdekatan dengan magnet. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 53)

g.      Faktor usia alat (lifetime)

      Usia peralatan labolatorium dapat menyebabkan kerusakan, karena setiap peralatan labolatorium memilki keterbatasan waktu optimal pemakaiannya.

h.       Desain alat dan bahan dasar

Bahan dasar alat harus diketahui agar penyimpanan. dan penggunaannya dapat dikontrol. Misalnya alat gelas yang akan dipakai untuk pemanasan harus dipilih dari bahan yang tahan panas. Bila suatu alat terbuat dari besi, atau sebagian pelengkap alat terbuat dari besi, maka tidak boleh disimpan berdekatan dengan zat-zat kimia, terutama yang bersifat korosif. Bahan besi dengan asam akan cepat berkarat.    

Selain bahan dasarnya yang rentan, ada juga karena desainnya, missal buret, mudah patah dan terjadi penyumbatan pada kran disebabkan karena tidak segera dibersihkan sehabis digunakan atau pada saat digunakanklem buret tidak dilapisi gabus. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Kimia, 2011, hal. 19-21)

             

F.     Kriteria Perawatan Alat-Alat Laboratorium


1.      Berdasarkan Golongan Bahan Alat

Penggunaan dan perawatan alat laboratorium IPA fisika digolongkan berdasarkan bahan pembuatan alat tersebut, yaitu bahan dari listrik, besi, gelas, porselin, plastik, kayu, dan lain-lain.

1.      Berdasarkan golongan bahan alat listrik

a.       Catudaya atau power supply

Catudaya atau power supply merupakan sumber tegangan dan arus listrik (DC) dan bolak balik (AC) yang sudah dilengkapi dengan batas nilai tertentu antara 0 – 12 volt.

Jika pada saat catudaya dihidupkan dengan menekan sakelar pada posisi on, tetapi arus listrik tidak ada, ada beberapa kemungkinan antara lain :

1)      Sekering Catudaya Putus

Sekering Catudaya umumnya dipasang pada bagian belakang catudaya. Saat sakelar pada posisi on,  tetapi tidak ada arus listrik yang mengalir, maka periksalah sakeringnya. Ada kemungkinan sakeringnya putus. Sakering catudaya terbuat dari tabung dengan dinding kaca, ujung kedua tabung dilapisi logam, dan di dalam tabung itu terdapat kawat yang menghubungkan kedua ujung logam. Memeriksa sekering dilakukan dengan cara mengamati kawat di dalam tabung itu. Jika kawat di dalam tabung itu putus, sakering catudaya itu harus diganti dengan yang baru.

2)      Kabel penghubung catudaya ke listrik PLN putus atau lepas

Umumnya kerusakan kabel penghubung terjadi karena kawat dalam kabel lepas dari steker atau kawat dalam kabel ada yang putus. Cara memperbaikinya adalah sebagai berikut. Bukalah steker, lalu periksa apakah ada kawat kabel yang lepas dari jepitan logam dalam steker, jika ada sambungkan kembali.

      Jika sambungan kawat logam dan steker dalam keadaan tersambung dengan baik, kawat dalam kabel diperiksa dengan menggunakan avometer. Putar sakelar avometer pada posisi untuk mengukur hambatan (ohmmeter).  Posisikan sakelar pada posisi maksimum untuk pengukuran hambatan (umumnya mega ohm). Sentuhkan dulu kedua batang pemeriksa (probe), jika menunjukan nilai nol, avometer itu dapat digunakan. Sentuhkan ujung salah satu batang pemeriksa ke ujung kabel yang diperiksa, ujung lain batang pemeriksa ke ujung lain kabel yang diperiksa, jika avometer menunjukan nilai nol berarti kabel itu masih dalam keadaan baik, tetapi jika menunjukan nilai yang besar (kilo ohm atau mega ohm) berarti kawat dalam kabel itu ada yang putus. Kawat yang putus dalam kabel biasanya terjadi pada bagian kabel yang sering dilonggarkan. Jika putus, diganti dengan yang baru. Cara yang lebih mudah untuk menguji apakah kawat dalam kabel itu putus atau tidak adalah mengganti terlebih dahulu dengan kabel  yang lain. Jika dengan kabel yang lain terlihat ada arus berarti kawat dalam kabel yang diganti ada yang putus.

3)      Sakelar on/off rusak

Pemeriksaan sakelar dilakukan untuk sakelar yang dapat dibuka dengan cara membuka sakelar lalu periksa. Jika catudaya tidak berfungsi karena sakelar, kemungkinan pada bagian dalam sakelar ada logam atau sambungan kabel ke sakelar yang lepas maka sambungkan kabel atau logam tersebut.

b.      Basicmeter

Kerusakan yang biasa terjadi pada basicmeter adalah jarum meter pada posisi tidak digunakan tidak menunjuk ke angka nol. Jika ini terjadi gunakan obeng untuk memutar skrup yang letaknya di bawah kotak basicmeter. Putar jarum meter itu sampai jarum menunjuk ke angka nol.

Kerusakan berat yang sering terjadi pada basicmeter adalah putusnya kawat halus di dalam kumparan yang terletak di dalam kotak. Akibatnya basicmeter tidak berfungsi. Kerusakan ini tidak dapat diperbaiki dengan peralatan yang ada di laboratorium sekolah, karena itu gunakan alat sesuai dengan petunjuknya.

Kerusakan yang lain adalah putusnya sambungan kabel pada skrup terminal atau lepas skrupnya. Ini dapat diperbaiki dengan menyolder sambungan kabel yang lepas dan memasang kembali skrup yang lepas.

Basicmeter dilengkapi dengan kotak shunt dan multiplier.  Kotak shunt berisi rangkaian hambatan seri dan dipasang pada terminal basicmeter untuk mengukur kuat arus istrik.

Kotak multiplier juga berisi rangkaian hambatan seri dipasang pada terminal basicmeter berfungsi untuk mengukur tegangan listrik. Kerusakan yang dapat terjadi pada kedua kotak ini adalah lepasnya skrup dari terminal. Jika terjadi kerusakan ini maka skrup dipasang kembali.

c.       Multimeter analog

Avometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur arus, dan hambatan listrik. Secara terpisah bahwa alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur arus dinamakan amperemeter. Alat ukur listrik yang digunkan untuk mengukur tegangan disebut voltmeter. Alat ukur listrik yang digunkakan untuk mengukur hambatan disebut ohmmeter. Alat pengukuran arus, tegangan, dan hambatan yang hanya menggunakan satu alat dinamakana multimeter analog  atau pula yang menyebutnya multister.

1)      Pemeliharaan dan perbaikan avometer atau multimeter analog

Untuk mengetahui cara pemelihraannya, perlu diketahui hal-hal berikut ini :

a)      Petunjuk dan peringatan dalam penggunaan avometer

(1)   Periksalah avometer, kabel ukur, dan peralatan lainnya setiap kali akan digunakan.

(2)   Avometer dapat mengukur 7 fungsi, seperti terlihat pada skala kaca. Disamping itu dapat mengukur 20 langkah pengukuran atau skalar putar (switch rotasi). Skala kaca diperlukan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan paralaks.

(3)   Bacalah informasi ini sampai tuntas, karena salah dalam pemakaian alat ini dapat membahayakan diri berupa kejutan listrik, rusaknya alat, dana alat yang sedang ditest.

(4)   Periksa fisik avometer, jangan dipakai jiak pecah, rusak, kotor, atau kondisinya rusak berat.

(5)   Putarlah skalar secara penuh. Perhatikan setiap langkah ketika  memutar skalar, harus tepat pada posisinya. Jangan dipakai apabila skalar putar itu kendor.

(6)   Periksalah kabel ukur apabila ada kerusakan, seperti jika ada yang pecah atau tidak terisolasi, kendor, ujung kabel dan pengetesan bengkok. Apabila ditemukan keadaan seperti itu sebaiknya tidak digunakan, tetapi harus diperbaiki dulu.

(7)   Letakkan avometer pada permukaan yang rata. Gunakan obeng kecil untuk menyetel “O”, baca skala sebelah kiri.

(8)   Masukan kabel warna hitam pada posisi “-” dan yang merah ke “+”. Pastikan semua komponen dalam kondisi baik, apabila longgar sebaiknya tidak dipakai.

(9)   Putas skalar pada posisi “x 1K”, pertemukan kedua ujung kabel dan test. Jika telah menyimpang ke sebelah kanan, putarlah tombol penyetel “0Ω”. Bacalah jarum penunjuk sampai tepat di angka “0” (skala paling atas di sebelah kanan). Apabila ini tidak tercapai berarti baterai lemah dan harus diganti.

(10)            Baterai yang ada di avometer (sebagai power), hanya dipakai untuk mengukur hambatan dalam batas maksimum yaitu kilo ohm. Jika kita melihat sakala putar dapat diposisikan pada “x 1”, “X 10”, dan “x 1K”.

b)      Data instrumentasi avometer

(1)   Ciri-ciri :

(a)    Ada 7 fungsi pada skala kaca dan 20 putaran (posisi skala putar)

(b)   Kekar dan tahan kejutan

(c)    Standard industri dan terminal banana plug

(d)   Plat kaca (di atas skala)

(e)    Dilindugi oleh sekering

(f)    Gerakan jarum penunjuk avometer dilindungi oleh diode

(g)   Fungsi pengetes baterai bergagang

(2)   Spesifikasi :

(a)    Kepekaan

(b)   Ketelitian

(c)    Sekering

(d)   Sumber daya

(e)    Ukuran

(f)    Masaa

(3)   Interval dan ketelitian :

(a)    Tegangan DC

(b)   Tegangan AC

(c)    Arus DC

(d)   Hambatan

(e)    Baterai

(f)    Suara Buzzer Decibel

(4)   Kemasan

(a)    Lengkap dengan satu set kabel test

(b)   Dua baterai @ 1,5 volt tyoe AA telah terpasang

(c)    Satu sekering terpasang + satu sekering cadangan

(d)   Buku petunjuk atau informasi penggunaan, jika masih aru (satu paket dalam kemasan)

2)      Pemeliharaan avometer

a)      Periksalah avometer, kabel ukur, dan peralatan lainnya setiap kali akan digunakan

b)      Mengganti baterai

c)      Buka semua terminal dari pengukuran untuk menghindari kejutan listrik

d)     Putuskan sambungan kabel dari rangkaian alat tersebut

e)      Balik alat ke atas dan letakan pada permukaan yang lembut supaya kaca plastik tidak rusak/cacat karena tergores

f)       Bukalah sekrup dan bangkat tutup ke bawah

g)      Angkat baterai dengan uang logam

h)      Ganti baterai dengan yang baru 1,5 V ukurang AA dengan polaritas kutub yang tepat

i)        Tutup dan pasang kembali sekrup, dan jangan terlalu keras memutarnya

j)        Penggantian sekering dengan cara pputuskan sambungan kabel dari rangkaian kabel dari rangkaian alat tersebut

k)      Balik alat ke atas dan letakan pada permukaan yang kembut supaya kaca plastik tidak rusak/cacat karena tergores

l)        Bukalah sekrup dan angkat tutup ke bawah

m)    Cabutlah sekering yang rusak, ganti dengan yang baru dengn ukuran 0,5 A, 250 V, ¼” x 1 ¼”

n)      Ganti sekering yang tepat dan jangan coba-coba memakai kawat yang dihubungkan langsung karena berbahaya dan dapat merusak avometer

3)      Pembersihan :

a)      Bagian luar avometer dapat dibersihkan dengan kain halus dan kering untuk menghilangkan minyak, gemuk, dan kotoran berupa debu. Jangan memakai larutan atau detergent serta jangan dipoles

b)      Apabila basah pada bagian dlam, keringkan bagian dalam dan bagian luar dengan angin +25 PSI (Pound per Square Inch)



2.      Berdasarkan golongan bahan logam

a.       Mikrometer sekrup

1)      Perawatan Mikrometer sekrup

a)      Pastikan disimpan di tempat yang tidak lembab

b)      Berikan minyak pelumas pada poros geser/putar secara rutin (minimal 2 bulan sekali)

c)      Pastikan bahwa ketika menyimpan, posisi poros tetap dalam poros putar mengentuh (skala nonius dan utama 0,00)

d)     Pastikan bahwa pengunci tidak difusikan (tidak digeser ke kiri)

2)      Teknik memperbaiki untuk kerusakan ringan

a)      Kerusakan biasanya ditandai dengan munculnya karat yang ada pada poros geser/putar sehingga praktis sulit untuk digeser

b)      Bila ini terjadi, sediakan minyak tanah dan minyak goreng masing-masing satu sendok, selanjutnya campurkan dan aduk sampai betul-betul bercampur

c)      Teteskan hasil minyak campuran tersebut ke bagian poros geser/putar yang berkarat, dan tunggu kira-kira 1-2 jam.

d)     Cobalah putar pada bagian poros dengan cara memutar pada bagian pemutar. Bila ini masih sulit coba gunakan tang yang dilapisi kain untuk menggerakan bagian poros geser/putar

b.      Jangka sorong

1)      Perawatan jangka sorong

a)      Pastikan bahwa disimpan di tempat yang tidak lembab

b)      Posisikan ujung skala nonius (dapat digeser-geser) dan ujung skala utama berimpit (skala nonius dan utama 0,00)

c)      Berikan pelumas pada bagian pengunci dan bagian yang  bergesekan

2)      Teknik memperbaiki untuk kerusakan ringan

a)      Kerusakan biasanya ditandai dengan munculnya karat yang ada pada pengunci (baut putar bagian atas) sehingga antara skala nonius dan skala utama tidak dapat digeser-geser

b)      Bila ini yang terjadi, sediakan minyak tanah dan minyak goreng masing-masing satu sendok, selanjutnya campurkan dan aduk sampai betul-betul bercampur

c)      Teteskan hasil minyak campuran tersebut ke bagian pengunci yang berkarat, dan tunggu kira-kira ½ jam.







Gambar  1. Bagian jangka sorong yang ditetesi minyak



d)     Cobalah putar pada bagian pengunci, dengan cara memutar pada bagian baut putar. Bila ini masih sulit coba gunakan tang yang dilapisi kain untuk melepas/mengendurkan bagian pengunci

c.       Neraca empat lengan

Neraca seringkali rusak atau tidak dapat digunakan dikarenakan faktor kelainan dalam penggunaan, penyimpanan, maupun proses kesetimbangan (menunjuk angka nol atau setimbang). Terdapat 2 cara untuk memperbaiki kesetimbangan pada neraca, yaitu cara pertama geser beban kecil skala paling depan ke kanan sampai mencapai tanda kesetimbangan dan berilah tanda yang menunjukan angka beberapa dari beban kecil yang telah digeser tersebut. Ketika digunakan untuk menimbang, maka nilai/angka tersebut nantinya sebagai pengurang. Cara kedua, pada bagian dudukan piring penimbang yang menggantung, aada lepas dan bagian bawahnya anda buka menggunakan obeng +, dan diisi atau dikurangi beban (berupa gotri, paku, besi kecil/bubuk


Gambar  2. Identifikasi Kerusakan Neraca



3.      Berdasarkan golongan bahan gelas

a.       Termometer

Termometer yang ada di laboratorium fsika ada beberapa jenis, yaitu termometer umum (berisi raksa atau alkohol), termometer klinis (untuk mengukur suhu badan), thermometer lab./termometer dinding (untuk mengukurkelembaban udara) dan termometer maksimum minimum. Masing-masing termometer ini mempunyai rentang skala yang berbeda, misalnya:

·         -  s.d  (termometer umum);

·         s.d  ±  (termometer klinis);

·         - s.d  ±  C (termometer dinding);

·          -  s.d  ±  C (termometer maksimum minimum)

Beberapa masalah yang sering timbul pada termometer adalah sebagai berikut:

·         Termometer pecah pada saat akan diambil / digunakan

·         Skala termometer pudar atau terhapus

·         Cairan dalam termometer terpisah/patah



Untuk memecahkan masalah di atas yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1)      Menjaga termometer agar tidak pecah

a)      Supaya termometer tidak terjatuh saat diambil, pada ujung atas termometer hendaknya diberi benang (benang kasur) atau tali rafia

b)      Pada waktu termometer digunakan mengukur suhu cairan, termometer hendaknya tidak digunakan sebagai pengaduk. Ketika digunakan mengukur cairan, bola termometer disentuhkan pada dasar wadah

c)      Termometer hendaknya disimpan dalam bungkusan (berupa plastik) atau pada kotak yang terbuat dari dus. Simpan termometer secara horizontal di lemari atau laci.

2)      Teknik mengatasi termometer yang patah/pecah

Jika cairan dalam termometer terpisah/patah, untuk menyambungkannya kembali dapat dilakukan dengan cara mereendam termometer dalam campuran es, air dan garam (jika perlu CO2 kering). Jika tidak berhasil, letakan termometer dalam freezer sampai cairan dalam termometer tergabung kembali. Apabila dengan cara di atas masih belum berhasil juga penaskan termometer dalam air. Pemanasan dilakukan dalam pemanas minyak. Hati-hati, janngan memansakna melewati kapasitas temometer itu. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Fisika, 2011, hal. 25-53)

 BAB III


Kesimpulan


Perawatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi yang baik dan siap pakai. Dalam kaitannya dengan perawatan peralatan laboratorium, perawatan yang dilakukan sebagai usaha preventif atau pencegahan agar  peralatan tidak rusak atau tetap terjaga dalam kondisi baik, siap beroperasi.

Jenis-jenis perawatan dibagi menjadi dua bagian yaitu perawatan terencana dan perawatan tak terencana.  Perawatan terencana merupakan bagian dari sistem manajemen perawatan yang terdiri atas perawatan preventf  (preventive maintenance), perawatan prediktif ( predictive maintenance, dan perawatan korektif (corrective maintenance). Dan perawatan tidak terencana adalah jenis perawatan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Kriteria perawatan alat-alat laboratorium yaitu berdasarkan golongan bahan alat listrik, seperti catu daya atau power supply, basic meter dan multimeter analog., berdasarkan golongan bahan logam seperti mikrometer sekrup, jangka sorong dan neraca empat lengan, berdasarakan golongan bahan gelas seperti termometer

Faktor–faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat laboratorium diantaranya adalah perubahan suhu, air-asam dan basa . kelembapan udara, debu dan kotoran, mekanis, cara penyimpanan, dan desain alat dan bahan dasar alat.

DAFTAR PUSTAKA



Depdikbud. (2011). Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium
                  Biologi.
Jakarta : Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.

Depdikbud. (2011). Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium
                 Fisika.
Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.

Depdikbud. (2011). Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium
                  Kimia.
Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar