Minggu, 21 Juli 2019
Jumat, 19 Juli 2019
Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK) Kemampuan pengetahuan konten, pedagogik dan teknologi
Pertanyaan : Selain memiliki kemampuan dalam menguasai konten, calon guru fisika juga dituntut harus memiliki kemapuan pedagogi. Shulman menyebut istilah itu dengan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Di era sekarang, guru juga dituntut menguasai teknologi, karena itu lahirlah konsep Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK). Jelaskan maksud pernyataan tersebut melalui contoh!
Jawab: Teknologi
Pedagogical Content Knowledge
(TPACK) yaitu berupa penggabungan antara
kemampuan pengetahuan konten, pedagogik dan teknologi. Ketiga doiman tersebut
perlu diintegrasikan didalam kelas ketika seorang guru melakukan proses
pembelajaran terhadap peserta didik. Ketika seorang guru dapat mengembangkan
pengetahuan dasar dengan mempelajari materi pelajaran, dan memahami teknologi
maka dapat membantu meningkatkan kesempatan belajar, memberikan pengalaman
untuk siswa, ketika guru dapat mengetahui pedagogi yang benar, maka guru dapat
meningkatkan isi dari pembelajaran tersebut. Dan membuat Dalam pendidikan fisika, guru dengan
perspektif TPACK adalah guru yang memahami pedagogi dan pemahaman konsep yang
benar dengan menggunakan teknologi dalam mengajarkan materi pembelajaran. Model TPACK menunjukkan bahwa pengetahuan konten yang berintegrasi teknologi dan keterampilan pedagogi merupakan
kondisi yang penting dalam menciptakan pembelajaran di kelas yang efektif dan inovatif dengan menggunakan teknologi (Abbitt, 2011)
Sumber
referensi : Ariani, D. N. (2015). Hubungan antara Technological
Pedagogical Content Knowledge dengan Technology Integration Self Efficacy Guru
Matematika di Sekolah Dasar. Mualimuna , 1, Volume 1 No.1.
Contoh :
Ketika seorang guru fisika akan melakukan proses pembelajaran
dikelas dengan materi fisika adalam Momentum dan impuls. Pemahaman yang
terpenting bagi seorang guru fisika adalah pemahaman konten materi konsep
Momentum dan impuls, karena seorang guru bertugas membenarkan ketika ada yang
salah dalam pemahaman peserta didik, dan agar tidak terjadi miskonsepsi
sehingga guru harus memahami betul konsep mentum impuls.
Dalam pemahaman pedagogi yang benar maka guru tersebut
sudah menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikelas yang meliputi
pendekatan, model, metode yang digunakan dalam pembelajaran, adanya
pembuka,apersepi, kegiatan inti , penutup, evaluasi dan lainnya.
Agar efektif maka
seorang guru fisika dapat memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran,
contohnya penggunaan Phet simulation, Google class, e- learning, edmodo dan
lain- lain.
Makalah Perawatan Alat Laboratorium IPA
FAKTOR
PENYEBAB KERUSAKAN ALAT LABORATORIUM, JENIS-JENIS DAN KRITERIA PERAWATAN ALAT
LABORATORIUM
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pengelolaan Laboratorium
Dosen Pengampu :
Drs. Yudi Dirgantara, M.Pd.
Disusun oleh :
Kelompok 09
Rifqi Asril Nurrochman (1172070066)
Sastria Nurul Zahra (1172070072)
Tazki Amalia Subia P (1172070076)
Kelas/Smt: B/II
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran IPA pada hakekatnya merupakan
pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, baik sikap ilmiah,
proses ilmiah, maupun produk ilmiah. Prinsip-prinsip ilmiah tersebut dijiwai
oleh inkuiri atau penemuan. Dengan demikian pembelajaran sains tidak pernah
lepas dengan kegiatan inkuiri. Dalam kegiatan pembelajaran IPA berdasarkan
inkuiri, Peserta Didik dilatih untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan
ilmiah, misalnya mengamati, menyusun hipotesis, merancang eksperimen, maupun
menarik kesimpulan.
Laboratorium adalah tempat untuk melaksanakan
kegiatan praktik yang mendukung pembelajaran dikelas. Agar bekerja
dilaboratorium merasa aman dan nyaman maka laboratorium berikut sarana lainnya
perlu dikelola dan dirawat secara rutin, sehingga dapat berfungsi seoptimal
mungkin sebagai sumber belajar. Untuk melakukan pemeliharaan dan perawatan
prasarana laboratorium , khususnya alat praktikum Fisika , diperlukan beberapa
prasyarat pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan Alat-alat praktikum
Fisika tersebut. Rendahnya tingkat perawatan alat dan bahan praktikum Fisika
menyebabkan kerusakan alat, yang berdampak kurang baik pada efisiensi keuangan,
keamanan, dan keselamatan kerja serta semangat kerja dilaboratorium. Dengan
demikian makalah ini disusun untuk membahas bagaimana ruang lingkup dalam
perawatan alat-alat laboratorium khususnya laboratorium Fisika.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan perawatan dan jenis-jenis perawatan ?
2.
Apa saja faktor yang menyebabkan kerusakan alat-alat laboratorium?
3.
Bagaimana kriteria perawatan laboratorium ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini,
1.
Untuk mengetahui pengertian perawatan dan jenis-jenis perawatan laboratorium
2.
Mengetahu faktor – faktor yang menyebabkan kerusakan alat-alat laboratorium.
3.
Mengetahui kriteria perawatan laboratorium .
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perawatan
Perawatan atau pemeliharaan adalah suatu
bentuk tindakan yang dilakukan dengan sadar untuk menjaga agar suatu alat
selalu dalam keadaan siap pakai, atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada
kondisi alat dapat berfungsi kembali. Perawatan adalah kegiatan yang dilakukan
untuk meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi
yang baik dan siap pakai. Dalam kaitannya dengan perawatan peralatan
laboratorium, perawatan yang dilakukan sebagai usaha preventif atau pencegahan
agar peralatan tidak rusak atau tetap terjaga dalam kondisi baik, siap
beroperasi. Disamping itu perawatan juga dimaksudkan sebagai upaya untuk
menyetel atau memperbaiki kembali peralatan laboratorium yang sudah terlanjur
rusak atau kurang layak sehingga siap digunakan untuk kegiatan praktikum siswa.
(Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan
Laboratorium Biologi, 2011, hal. 9)
B. Jenis Perawatan
Pada umumunya perawatan dibagi atas dua
bagian, yaitu perawatan terencana dan perawatan tak terencana. Perawatan
terencana (planned maintenance)
didefinisikan sebagai proses perawatan yang diatur dan terorganisikan untuk
mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap peralatan diwaktu yang akan
datang. Di dalam perawatan terencana, terdapat dua unsur pencatatan sesuai
dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Perawatan terencana adalah
sistem pengorganisasian perawatan atau program perawatan yang dikelola dengan
cara yang efektif. Perawatan terencana merupakan bagian dari sistem manajemen
perawatan yang terdiri atas perawatan preventf
(preventive maintenance), perawatan
prediktif ( predictive maintenance, dan
perawatan korektif (corrective
maintenance)
1.
Perawatan Terencana
Perawatan terencana adalah jenis perawatan
yang diprogramkan, diorganisir, dijadwalkan, dianggarkan dan dilaksanakan
sesuai rencana, serta dilakukan monitoring dan evaluasi. Perawatan terencana
dibedakan menjadi dua, yakni: perawatan preventif, dan perawatan terencana yang
bersifat korektif
a.
Perawatan Preventif
Perawatan preventif adalah perawatan yang dilakukan pada
selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa
kriteria yang ditentukan sebelumnya. Tujuannya untuk mencegah dan mengurangi
kemungkinan suatu komponen tidak memenuhi kondisi normal. Pekerjaan yang
dilakukan adalah mengecek, melihat, menyetel, mengkalibrasi, melumasi
(pengisian minyak atau air), atau pekerjaan lainnya yang bukan penggantian suku
cadang berat. Perawatan preventif membantu agar alat dapat bekerja dengan baik
sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan pabrik pembuatannya.
Perawatan preventif merupakan perawatan yang bersifat pencegahan, adalah
sitem perawatan peralatan laboratorium yang secara sadar dilakukan melalui
tahapan perencanaan , pengorganisasian, pelaksanaan, serta monitoring dengan
tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan atau kerusakan peralatan
laboratorium. Perawatan preventif lebih dikenal dengan istilah servis, yaitu
melakukan semua pemeriksaan dan pengaturan sesuai dengan petunjuk, misalnya tentang
pelumasan untuk alat-alat dari logam, contohnya engsel yang terdapat pada
mikroskop, dan pekerjaan lainnya termasuk pemerikasaan terhadap indikator
kinerja setiap alat.
Semua pekerjaan yang masuk dalam
lingkup perawatan preventif , dilakukan secara rutin dengan berdasarkan pada
hasil kinerja alat yang diperoleh dan pekerjaan perawatan prediktif atau adanya
anjuran dari pabrik alat tersebut. Apabila perawatan preventif dikelola dengan
baik , maka akan mendapatkan informasi tentang kapan mesin diganti sebagian
besar komponennya.
b.
Perawatan Korektif
Perawatan korektif merupakan perawatan yang
bersifat koreksi, yakni sistem perawatan peralatan laboratorium secara sadar
dilakukan melalui tahapan perencanaan, serata monitoring dengan tujuan untuk
mengembalikan peralatan laboratorium pada kondisi standar , sehingga berfungsi
normal
2. Perawatan Tidak Terencana
Perawatan tidak terencana adalah jenis perawatan yang
bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Pekerjaan perawatan ini tidak direncanakan, dan tidak dijadwalkan. Umumnya
tingakat kerusakan yang terjadi adalah pada tingkat kerusakan berat. Karena
tidak direncanakan sebelumnya, maka juga disebut perawatan darurat. (Depdikbud,
Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 10-12)
C. Tujuan Perawatan Laboratorium
Tujuan
perawatan terencana terhadap alat-alat labororatorium diantaranya:
1.
Perawatan laboratorium selalu prima, dan siap pakai secara optimal. Hal
tersebut untuk mendukung kegiatan kerja, sehingga diharapkan akan memperoleh
hasil yang optima pula.
2.
Memperpanjang umur pemakaian peralatan laboratorium. Hal tersebut sangat
penting terutama jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli satu
peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari
peralatan tersebut.Walaupun disadari bahwa kadang-kadang untuk jenis barang
tertentu, membeli dapat lebih murah jika alata yang akan dirawat sudah demikian
rusak.
3.
Menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan orang atau siswa yang
menggunakan peralatan tersebut.
4.
Menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama dalam
keadaan darurat, adanya unit cadangan, pemadam kebakaran, dan penyelamat.
5.
Menjamin kelancaran kegiatan pembelajaran
6.
Mengetahui kerusakan secara dini atau gejala kerusakan
7.
Menghindari terjadinya kerusakan secara mendadak
8.
Menghindari terjadinya kerusakan fatal (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan
Laboratorium Biologi, 2011, hal. 13)
D. Sistem Perawatan Laboratorium
Dalam perawatan Laboratorium, sebelum penyusunan jadwal
dan rencana kebutuhan biaya perawatan perlu dilihat unsur-unsur berikut ini:
1. Obyek Perawatan Laboratorium
Sebagai obyek laboratorrium yang perlu dilakukan perawatan diantaranya
adalah :
a.
Ruang laboratorium, termasuk kebersihan lantai, kelembaban, ventilasi,
dan penerangan.
b.
Perabotan atau meubeler laboratorium, seperti lemari, meja percobaan,
meja kerja, rak dan kursi.
c.
Peralatan administrasi dan dokumentasi laboratorium, seperti komputer
dan filenya, serta buku-buku manual.
d.
Sumber jaringan listrik, stop kontak, sekring dan lampu
e.
Peralatan praktikum dan perlengkapan percobaan
f.
Instrumen dan alat-alat ukur
g.
Spesimen dan bahan-bahan untuk praktikum
2. Sumber Daya Sistem Perawatan Laboratorium
a.
Tenaga Laboran/Teknisi (man)
Tenaga laboran/ teknisi mempunyai tanggung jawab dalam merawat
laboratorium yang dikelolanya. Salah satu tugas seorang laboran/ teknisi adalah
meliputi pekerjaan seperti menjaga, menyimpan, membersihkan, memelihara,
memeriksa, menyetel kembali, bahkan bila perlu dan dibutuhkan dapat melakukan
penggantian dan perbaikan komponen peralatan Laboratorium yang rusak.
Untuk peralatan khusus dengan tingkat kerusakan yang sudah parah, dimana
perbaikannya juga memerlukan kemampuan profesional yang khusus, maka dapat
memanfaatkan tenaga teknisi ahli dari luar. Misalnya untuk perbaikan peralatan
ukur optik, peralatan ukur elektronik, yang kontruksinya sangat rumit.
Untuk pekerjaan perawatan yang ringan dan rutin dapat melibatkan siswa.
Misalnya dalam menjaga kebersihan ruang dan tempat praktik, menjaga kebersihan
peralatan, dan membantu dalam penyimpanan peralatan. Untuk keperluan pencegahan
terhadap kemungkinan kerusakan akibat kesalahan pemakaian harus sekaligus
sebagai upaya pembinaan tanggung jawab siswa, diberikan peraturan dan tata
tertib penggunaan peralatan laboratorium.
b.
Biaya Perawatan
Perawatan membutuhkan biaya, bahkan kadang-kadang biaya yang dibutuhkan
untuk pekerjaan perawatan sangat mahal. Biaya perawatan dibutuhkan untuk
berbagai hal, antara lain:
1)
Biaya pembelian bahan-bahan untuk perawatan, seperti sabun, carbol, kain
lap, perekat, cat, bahan pengawet, pencegah jamur dan sebagainya.
2)
Biaya pembelian suku cadang, seperti kran air, kabel, mur baut, lensa
optik, dan sebagainya.
3)
Biaya pembelian perawatan, seperti : sapu, sikat , sulak, kuas, solder,
tang, obeng, gunting, dan sebagainya.
4)
Upah tenaga perawatan jika perlu, khususnya apabila pekerjaan terpaksa
harus mengundang pihak luar, misalnya ahli komputer.
Biaya perawatan diatas perlu dihitung dan
dimasukkan dan usulan anggaran, sehingga tersedia dana untuk perawatan
laboratorium secara rutin.
c.
Bahan Perawatan (materials)
Yang dimaksud bahan perawatan adalah seluruh jenis bahan
yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan perawatan peralatan laboratorium.
Bahkan untuk pekerjaan perawatan ini harus tersedia dengan jumlah yang memadai,
karena bahan ini merupakan salah satu sumber daya yang sangat mendesak atau
penting untuk perawatan semua peralatan semua laboratorium. Bahan yang
dibutuhkan untuk pekerjaan perawatan peralatan laboratorium, antara lain:
1)
Bahan untuk pekerjaan kebersihan, seperti sabun, carol, kain lap,
thinner, bahan pembersih alat-alat laboratorium, tempat sampah, kantong
plastik, dan bahan pembersih lainnya.
2)
Bahan untuk pemeliharaan, seperti: bahan pengawet, minyak pelumas, bahan
pelapis, bahan pelindung, pembungkus, pupuk tanaman dan makan hewan, pembasmi
serangga, dan sebaginya
3)
Suku cadang, seperti: kran air, kabel mur baut, dan sebagainya.
d.
Peralatan Perawatan (machines)
Tersedianya alat-alat perawatan merupakan sumber daya
yang sangat dibutuhkan untuk melakukakn pekerjaan perawatan laboratorium.
Apabila laboratorium memliki peralatan perawatan lengkap akan sangat mendukung
terlaksanaya program perawatan laboratorium. Peralatan untuk pekerjaan
perawatan, tergantung dari jenis sarana atau fasilitas yang dirawat serta jenis
kegiatan perawatannya.
Peralatan perawatan laboratorium antara lain meliputi perawatan untuk:
1)
Peralatan penyimpanan, misalnya lemari, rak dan laci
2)
Peralatan pemeliharaan, misalnya alat pelumas dan alat pelapis
3)
Peralatan pemeriksaan, misalnya instrumen pengukuran
4)
Peralatan penyetelan/pengoperasian kembali
5)
Peralatan perbaikan
Peralatan perawatan yang sifatnya umum,
sederhana, dan secara rutin sering dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan
perawatan peralatan sebaiknya dimiliki oleh setiap laboratorium.
e.
Cara perawatan (methodes)
Cara atau metode untuk melakukan pekerjaan laboratorium yang dapat
dilakukan anatara lain dengan cara:
1)
Melakukan pencegahan, misalnya dengan memberi peringatan melalui gambar
atau tulisan, peraturan tata tertib bagi pengguna laboratorium, dan memberi
bahn pengawet.
2)
Menyimpan, misalnya menyimpan peralatan laboratorium agar terhindar dari
kerusakan
3)
Membersihkan, agar peralatan laboratorium selalu bersih dari kotoran
yang dapat merusak, misalnya debu dan uap air yang dapat menyebabkan terjadinya
korosi.
4)
Memlihara, misalnya dengan melumasi peralatan mekanis, dan memberi makan
hewan percobaan.
5)
Memeriksa atau mengecek kondisi peralatan laboratorium untuk mengetahui
adanya gejala kerusakan.
6)
Menyetel kembali tune-up,
kalibarasi alat agar fasilitas atau peralatan dalam kondisi normal atau
standar.
7)
Memperbaiki kerusakan ringan yang terjadi pada peralatan laboratorium
pada batas tingakat kerusakan tertentu yang masih mungkin dapat diperbaiki
sendiri, sehingga siap dipakai untuk praktikum siswa.
8)
Mengganti komponen-komponen peralatan laboratorium yang rusak
f. Waktu Perawatan (minutes)
Waktu untuk perawatan peralatan laboratorium dapat
dilihat dari tersedianya kesempatan atau waktu bagi pihak yang dilibatkan dalam
kegiatan perawatan dan pemamfaatan kesempatan tersebut secara efektif dan
efisien untuk melaksanakan kegiatan perawatan. Dari sisi obyek yang dirawat,
jadwal pelaksanaan pekerjaan perawatan laboratorium dapat ditetapkan
berdasarkan pada:
1)
Berdasarkan pengalaman lalu dalam suatu jenis perawatan alat yang sama.
Diperoleh pengalaman mengenai selang waktuatau frekuensi untuk melakukan
perawatan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko
kerusakan alat tersebut. Bagi laboran/teknisi yang telah berpengalaman dalam
melakukan tugas perawatan peralatan laboratorium akan banya memiliki informasi
untuk membantu dalam menyusun jadwal perawatan.
2)
Berdasarkan sifat operasi atau beban pekaian atau penggunaan
laboratorium. Untuk obyek atau lat yang sering digunakan pada kegiatan
praktikum dan pemakainya banyak orang, maka obyek atau alat tersebut akan cepat
kotor atau rusak. Untuk menjaga agar tetap bersih dan menghindari kerusakan,
mestinya jadwal perawatannya harus dibuat tinggi frekuensinya yang berarti
obyek atau alat tersebut harus sering dilakukan perawatan.
3)
Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat peralatan yang dimiliki
laboratorium.Peralatan laboratorium
yang baru dibeli dari pabrik biasanya dilengkapi dengan buku manual
yang memuat petunjuk operasi dan cara serta jadwal perawatan alat tersebut. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan dalam menyusun jadwal perawatan.(Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan
Laboratorium Biologi, 2011, hal. 14-20)
yang memuat petunjuk operasi dan cara serta jadwal perawatan alat tersebut. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan dalam menyusun jadwal perawatan.
E. Faktor –Faktor yang Menyebabkan Kerusakan Alat-Alat Laboratorium
Faktor–faktor yang dapat menyebabkan
kerusakan pada alat –alat laboratorium diantaranya:
a. Perubahan temperatur
Beberapa jenis alat–alat
labolatorium peka terhadap perubahan temperatur. Temperatur yang tinggi
menyebabkan alat-alat memuai, tetapi kadang-kadang pemuaian tidak teratur
sehingga bentuk alat-alat akan berubah dan menyebabkan fungsi alat-alat itu
berubah pula. Temperatur ruangan yang cukup tinggi dapat memicu terjadi
oksidasi, merusak cat, merusak alat-alat elektronika karena komponen
elektronika mempunyai batas kerja normal pada rentang temperatur tertentu. Keadaan temperatur yang terlalu rendah juga mempunyai akibat yang serupa. Misalnya
alat-alat ukur, seperti gelas ukur,
buret, pipet. Alat-alat tersebut tidak
boleh dipanaskan.
b. Kelembaban udara
Udara
mengandung oksigen dan uap air (kelembaban). Kandungan ini memungkinkan alat
dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya seperti tembaga dan
kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena udara bebas adalah
dengan cara mengecat, memoles, melapisi dengan vernis serta melapisi dengan
khrom atau nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi.
Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas antara lain timbulnya zat baru,
terjadinya endapan, gas dan panas. Dampak dari bahan kimia yang tidak berfungsi
lagi dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan..
Berbagai
alat seperti mikroskop yang peka terhadap lingkungan, misalnya terhadap
kelembaban, didaerah yang dingin atau di daerah yang lembab penyimpanan alat
harus hati-hati, karena pada daerah lembab bila alat disimpan dalam lemari kemungkinan
besar akan ditumbuhi jamur. Lensa harus diaga jangan sampai berjamur. Lensa
obyektif dan okuler cepat berjamur di daerah lembab. Salah satu cara mencegah
pengaruh kelembaban di lemari penyimpanan dipasang lampu listrik, sehingga
udara dalam lemari menjadi lebih kering. Mikroskop haru disimpan dalam kotaknya
dan diberi zat absorpsi (silika gel).
c. Debu atau kotoran
Debu atau kotoran salah
satu penyebab rusaknya alat. Suatu alat secara terus menerus terkena debu dan
jarang dibersihkan akan mudah rusak. Misalnya neraca tidak disimpan dilemari
tetapi disimpan di ruang terbuka, dapt berkibt piring neraca berdebu dan
bernoda sehingga dapat berakibat neraca menjadi tidak seimbang
d.
Air
dan Asam – Basa
Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan
bersih, jauh dari air, asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat
menyebabkan kerusakan alat seperti berkarat, korosif dan berubah fungsinya.
Bahan kimia yang bereaksi dengan zat kimia lainnya menyebabkan bahan tersebut
tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat baru, gas, endapan, panas serta
kemungkinan terjadinya ledakan. Dalam laboratorium terdapat zat-zat kimia. Beberapa zat kimia
terutama yang korosif dapat mempengaruhi atau merusak alat. Oleh karena itu
zat-zat kimia harus disimpan berjauhan dari alat-alat, terutama alat-alat yang
terbuat dari logam. Alat-alat yang
menggunakan baterai kering bila selesai digunakan baterai harus dikeluarkan, dan alat harus disimpan dalam keadaan turn of (sleep). Misalnya: pH-meter, komparator lingkungan.
menggunakan baterai kering bila selesai digunakan baterai harus dikeluarkan, dan alat harus disimpan dalam keadaan turn of (sleep). Misalnya: pH-meter, komparator lingkungan.
Air akan mempercepat rusaknya alat-alat kimia, oleh karena itu
simpanlah alat dalam keadaan kering. Tempatkan alat dalam tempat yang kering.
Zat kimia yang bersifat asam dan basa mempunyai daya rusak yang lebih hebat
dari air. Hindarkan alat-alat kimia dari sentuhan cairan asam dan basa ini. Akibat
dari tutup botol masing-masing zat yang berdekatan tidak rapat, maka pertemuan
uap asam klorida (HCl) dengan uap ammonia, (NH4OH) akan
bereaksi menghasilkan uap ammonim klorida ( NH4Cl) yang dapat
merusak alat alat dari logam.
Cara yang paling baik untuk mencegah kerusakan alat-alat yang
disebabkan oleh asam, ialah mengisolir asam itu sendiri. Misalnya menempatkan
botol asam yang tertutup rapat dan ditempatkan dalam almari khusus atau
di almari asam yang selalu terdapat di setiap laboratorium kimia. Pengaruh
basa terhadap alat kimia sama dengan
pengaruh asam. Maka pencegahannya tidak berbeda dengan pengaruh asam. Demikian pula cairan kimia di luar asam, basa maupun air dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat kimia
pengaruh asam. Maka pencegahannya tidak berbeda dengan pengaruh asam. Demikian pula cairan kimia di luar asam, basa maupun air dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat kimia
e. Mekanis
Alat – alat labolatorium
memiliki cara penggunaan yang kompleks dan diperlukan keahlian dalam
menggunakannya sehingga apabila terjadi kesalahan dalam pengguanaan dapat
menyebabkan kerusakan pada alat. Apabila penggunaan pada alat tidak sesuai
dengan semestinya.
f. Cara penyimpanan
Cara penyimpanan alat –
alat labolatorium yang salah dan kurang tepat akan menyebabkan peralatan
labolatorium mengalami kerusakan. Dalam penyimpanan alat perlu diperhatikan bahwa alat yang
terbuat dari logam harus dipisahkan dari alat yang terbuat dari gelas. Beberapa
alat yang diset dan terdiri dari alat logam
dan kaca, misalnya Respirometer Sederhana, dan Potometer. Selain alat itu
sendiri, dibutuhkan standarnya. Setiap alat yang terkombinasi dari logam-kaca,
sedapat mungkin dalam penyimpanannya dipisahkan, pada waktu hendak dipakai
barulah dipasang atau diset. Magnet jangan disimpan dekat alat-alat yang
sensitif pada magnet. Stopwatch dapat kehilangan kestabilan bila disimpan berdekatan dengan
magnet. (Depdikbud,
Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi, 2011, hal. 53)
g. Faktor usia alat (lifetime)
Usia peralatan labolatorium
dapat menyebabkan kerusakan, karena setiap peralatan labolatorium memilki
keterbatasan waktu optimal pemakaiannya.
h. Desain alat dan
bahan dasar
Bahan
dasar alat harus diketahui agar penyimpanan. dan penggunaannya dapat dikontrol.
Misalnya alat gelas yang akan dipakai untuk pemanasan harus dipilih dari bahan
yang tahan panas. Bila suatu alat terbuat dari besi, atau sebagian pelengkap
alat terbuat dari besi, maka tidak boleh disimpan berdekatan dengan zat-zat
kimia, terutama yang bersifat korosif. Bahan besi dengan asam akan cepat
berkarat.
Selain bahan
dasarnya yang rentan, ada juga karena desainnya, missal buret, mudah patah dan
terjadi penyumbatan pada kran disebabkan karena tidak segera dibersihkan
sehabis digunakan atau pada saat digunakanklem buret tidak dilapisi gabus. (Depdikbud, Panduan Teknis
Perawatan Peralatan Laboratorium Kimia, 2011, hal. 19-21)
F. Kriteria Perawatan Alat-Alat Laboratorium
1. Berdasarkan Golongan Bahan Alat
Penggunaan dan perawatan
alat laboratorium IPA fisika digolongkan berdasarkan bahan pembuatan alat
tersebut, yaitu bahan dari listrik, besi, gelas, porselin, plastik, kayu, dan
lain-lain.
1. Berdasarkan golongan bahan alat listrik
a.
Catudaya atau power supply
Catudaya atau power supply merupakan sumber tegangan dan arus listrik
(DC) dan bolak balik (AC) yang sudah dilengkapi dengan batas nilai tertentu
antara 0 – 12 volt.
Jika pada saat catudaya dihidupkan dengan menekan sakelar pada posisi on, tetapi arus listrik tidak ada, ada
beberapa kemungkinan antara lain :
1)
Sekering Catudaya Putus
Sekering Catudaya umumnya dipasang pada bagian belakang
catudaya. Saat sakelar pada posisi on, tetapi tidak ada arus listrik yang mengalir,
maka periksalah sakeringnya. Ada kemungkinan sakeringnya putus. Sakering
catudaya terbuat dari tabung dengan dinding kaca, ujung kedua tabung dilapisi
logam, dan di dalam tabung itu terdapat kawat yang menghubungkan kedua ujung
logam. Memeriksa sekering dilakukan dengan cara mengamati kawat di dalam tabung
itu. Jika kawat di dalam tabung itu putus, sakering catudaya itu harus diganti
dengan yang baru.
2)
Kabel penghubung catudaya ke listrik PLN putus atau lepas
Umumnya kerusakan kabel penghubung terjadi karena kawat
dalam kabel lepas dari steker atau kawat dalam kabel ada yang putus. Cara
memperbaikinya adalah sebagai berikut. Bukalah steker, lalu periksa apakah ada
kawat kabel yang lepas dari jepitan logam dalam steker, jika ada sambungkan
kembali.
Jika sambungan kawat logam
dan steker dalam keadaan tersambung dengan baik, kawat dalam kabel diperiksa
dengan menggunakan avometer. Putar sakelar avometer pada posisi untuk mengukur
hambatan (ohmmeter). Posisikan sakelar
pada posisi maksimum untuk pengukuran hambatan (umumnya mega ohm). Sentuhkan
dulu kedua batang pemeriksa (probe),
jika menunjukan nilai nol, avometer itu dapat digunakan. Sentuhkan ujung salah
satu batang pemeriksa ke ujung kabel yang diperiksa, ujung lain batang
pemeriksa ke ujung lain kabel yang diperiksa, jika avometer menunjukan nilai
nol berarti kabel itu masih dalam keadaan baik, tetapi jika menunjukan nilai
yang besar (kilo ohm atau mega ohm) berarti kawat dalam kabel itu ada yang
putus. Kawat yang putus dalam kabel biasanya terjadi pada bagian kabel yang
sering dilonggarkan. Jika putus, diganti dengan yang baru. Cara yang lebih
mudah untuk menguji apakah kawat dalam kabel itu putus atau tidak adalah
mengganti terlebih dahulu dengan kabel
yang lain. Jika dengan kabel yang lain terlihat ada arus berarti kawat
dalam kabel yang diganti ada yang putus.
3)
Sakelar on/off rusak
Pemeriksaan sakelar dilakukan untuk sakelar yang dapat
dibuka dengan cara membuka sakelar lalu periksa. Jika catudaya tidak berfungsi
karena sakelar, kemungkinan pada bagian dalam sakelar ada logam atau sambungan
kabel ke sakelar yang lepas maka sambungkan kabel atau logam tersebut.
b.
Basicmeter
Kerusakan yang biasa terjadi pada basicmeter adalah jarum
meter pada posisi tidak digunakan tidak menunjuk ke angka nol. Jika ini terjadi
gunakan obeng untuk memutar skrup yang letaknya di bawah kotak basicmeter.
Putar jarum meter itu sampai jarum menunjuk ke angka nol.
Kerusakan berat yang sering terjadi pada basicmeter
adalah putusnya kawat halus di dalam kumparan yang terletak di dalam kotak.
Akibatnya basicmeter tidak berfungsi. Kerusakan ini tidak dapat diperbaiki
dengan peralatan yang ada di laboratorium sekolah, karena itu gunakan alat
sesuai dengan petunjuknya.
Kerusakan yang lain adalah putusnya sambungan kabel pada
skrup terminal atau lepas skrupnya. Ini dapat diperbaiki dengan menyolder
sambungan kabel yang lepas dan memasang kembali skrup yang lepas.
Basicmeter dilengkapi dengan kotak shunt dan multiplier. Kotak shunt
berisi rangkaian hambatan seri dan dipasang pada terminal basicmeter untuk
mengukur kuat arus istrik.
Kotak multiplier juga
berisi rangkaian hambatan seri dipasang pada terminal basicmeter berfungsi
untuk mengukur tegangan listrik. Kerusakan yang dapat terjadi pada kedua kotak
ini adalah lepasnya skrup dari terminal. Jika terjadi kerusakan ini maka skrup
dipasang kembali.
c.
Multimeter analog
Avometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur
arus, dan hambatan listrik. Secara terpisah bahwa alat ukur listrik yang digunakan
untuk mengukur arus dinamakan amperemeter. Alat ukur listrik yang digunkan
untuk mengukur tegangan disebut voltmeter. Alat ukur listrik yang digunkakan
untuk mengukur hambatan disebut ohmmeter. Alat pengukuran arus, tegangan, dan
hambatan yang hanya menggunakan satu alat dinamakana multimeter analog atau pula
yang menyebutnya multister.
1)
Pemeliharaan dan perbaikan avometer atau multimeter analog
Untuk mengetahui cara pemelihraannya, perlu
diketahui hal-hal berikut ini :
a)
Petunjuk dan peringatan dalam penggunaan avometer
(1)
Periksalah avometer, kabel ukur, dan peralatan lainnya setiap kali akan
digunakan.
(2)
Avometer dapat mengukur 7 fungsi, seperti terlihat pada skala kaca.
Disamping itu dapat mengukur 20 langkah pengukuran atau skalar putar (switch rotasi). Skala kaca diperlukan
untuk mengurangi kemungkinan kesalahan paralaks.
(3)
Bacalah informasi ini sampai tuntas, karena salah dalam pemakaian alat
ini dapat membahayakan diri berupa kejutan listrik, rusaknya alat, dana alat
yang sedang ditest.
(4)
Periksa fisik avometer, jangan dipakai jiak pecah, rusak, kotor, atau
kondisinya rusak berat.
(5)
Putarlah skalar secara penuh. Perhatikan setiap langkah ketika memutar skalar, harus tepat pada posisinya.
Jangan dipakai apabila skalar putar itu kendor.
(6)
Periksalah kabel ukur apabila ada kerusakan, seperti jika ada yang pecah
atau tidak terisolasi, kendor, ujung kabel dan pengetesan bengkok. Apabila
ditemukan keadaan seperti itu sebaiknya tidak digunakan, tetapi harus
diperbaiki dulu.
(7)
Letakkan avometer pada permukaan yang rata. Gunakan obeng kecil untuk
menyetel “O”, baca skala sebelah kiri.
(8)
Masukan kabel warna hitam pada posisi “-” dan yang merah ke “+”.
Pastikan semua komponen dalam kondisi baik, apabila longgar sebaiknya tidak
dipakai.
(9)
Putas skalar pada posisi “x 1K”, pertemukan kedua ujung kabel dan test.
Jika telah menyimpang ke sebelah kanan, putarlah tombol penyetel “0Ω”. Bacalah
jarum penunjuk sampai tepat di angka “0” (skala paling atas di sebelah kanan).
Apabila ini tidak tercapai berarti baterai lemah dan harus diganti.
(10)
Baterai yang ada di avometer (sebagai power), hanya dipakai untuk
mengukur hambatan dalam batas maksimum yaitu kilo ohm. Jika kita melihat sakala
putar dapat diposisikan pada “x 1”, “X 10”, dan “x 1K”.
b)
Data instrumentasi avometer
(1)
Ciri-ciri :
(a)
Ada 7 fungsi pada skala kaca dan 20 putaran (posisi skala putar)
(b)
Kekar dan tahan kejutan
(c)
Standard industri dan terminal banana plug
(d)
Plat kaca (di atas skala)
(e)
Dilindugi oleh sekering
(f)
Gerakan jarum penunjuk avometer dilindungi oleh diode
(g)
Fungsi pengetes baterai bergagang
(2)
Spesifikasi :
(a)
Kepekaan
(b)
Ketelitian
(c)
Sekering
(d)
Sumber daya
(e)
Ukuran
(f)
Masaa
(3)
Interval dan ketelitian :
(a)
Tegangan DC
(b)
Tegangan AC
(c)
Arus DC
(d)
Hambatan
(e)
Baterai
(f)
Suara Buzzer Decibel
(4)
Kemasan
(a)
Lengkap dengan satu set kabel test
(b)
Dua baterai @ 1,5 volt tyoe AA telah terpasang
(c)
Satu sekering terpasang + satu sekering cadangan
(d)
Buku petunjuk atau informasi penggunaan, jika masih aru (satu paket
dalam kemasan)
2)
Pemeliharaan avometer
a)
Periksalah avometer, kabel ukur, dan peralatan lainnya setiap kali akan
digunakan
b)
Mengganti baterai
c)
Buka semua terminal dari pengukuran untuk menghindari kejutan listrik
d)
Putuskan sambungan kabel dari rangkaian alat tersebut
e)
Balik alat ke atas dan letakan pada permukaan yang lembut supaya kaca
plastik tidak rusak/cacat karena tergores
f)
Bukalah sekrup dan bangkat tutup ke bawah
g)
Angkat baterai dengan uang logam
h)
Ganti baterai dengan yang baru 1,5 V ukurang AA dengan polaritas kutub
yang tepat
i)
Tutup dan pasang kembali sekrup, dan jangan terlalu keras memutarnya
j)
Penggantian sekering dengan cara pputuskan sambungan kabel dari
rangkaian kabel dari rangkaian alat tersebut
k)
Balik alat ke atas dan letakan pada permukaan yang kembut supaya kaca
plastik tidak rusak/cacat karena tergores
l)
Bukalah sekrup dan angkat tutup ke bawah
m)
Cabutlah sekering yang rusak, ganti dengan yang baru dengn ukuran 0,5 A,
250 V, ¼” x 1 ¼”
n)
Ganti sekering yang tepat dan jangan coba-coba memakai kawat yang
dihubungkan langsung karena berbahaya dan dapat merusak avometer
3)
Pembersihan :
a)
Bagian luar avometer dapat dibersihkan dengan kain halus dan kering
untuk menghilangkan minyak, gemuk, dan kotoran berupa debu. Jangan memakai
larutan atau detergent serta jangan dipoles
b)
Apabila basah pada bagian dlam, keringkan bagian dalam dan bagian luar
dengan angin +25 PSI (Pound per Square Inch)
2. Berdasarkan golongan bahan logam
a.
Mikrometer sekrup
1)
Perawatan Mikrometer sekrup
a)
Pastikan disimpan di tempat yang tidak lembab
b)
Berikan minyak pelumas pada poros geser/putar secara rutin (minimal 2
bulan sekali)
c)
Pastikan bahwa ketika menyimpan, posisi poros tetap dalam poros putar
mengentuh (skala nonius dan utama 0,00)
d)
Pastikan bahwa pengunci tidak difusikan (tidak digeser ke kiri)
2)
Teknik memperbaiki untuk kerusakan ringan
a)
Kerusakan biasanya ditandai dengan munculnya karat yang ada pada poros
geser/putar sehingga praktis sulit untuk digeser
b)
Bila ini terjadi, sediakan minyak tanah dan minyak goreng masing-masing
satu sendok, selanjutnya campurkan dan aduk sampai betul-betul bercampur
c)
Teteskan hasil minyak campuran tersebut ke bagian poros geser/putar yang
berkarat, dan tunggu kira-kira 1-2 jam.
d)
Cobalah putar pada bagian poros dengan cara memutar pada bagian pemutar.
Bila ini masih sulit coba gunakan tang yang dilapisi kain untuk menggerakan
bagian poros geser/putar
b.
Jangka sorong
1)
Perawatan jangka sorong
a)
Pastikan bahwa disimpan di tempat yang tidak lembab
b)
Posisikan ujung skala nonius (dapat digeser-geser) dan ujung skala utama
berimpit (skala nonius dan utama 0,00)
c)
Berikan pelumas pada bagian pengunci dan bagian yang bergesekan
2)
Teknik memperbaiki untuk kerusakan ringan
a)
Kerusakan biasanya ditandai dengan munculnya karat yang ada pada
pengunci (baut putar bagian atas) sehingga antara skala nonius dan skala utama
tidak dapat digeser-geser
b)
Bila ini yang terjadi, sediakan minyak tanah dan minyak goreng
masing-masing satu sendok, selanjutnya campurkan dan aduk sampai betul-betul
bercampur
c)
Teteskan hasil minyak campuran tersebut ke bagian pengunci yang
berkarat, dan tunggu kira-kira ½ jam.
Gambar 1. Bagian jangka sorong yang ditetesi minyak
|
d)
Cobalah putar pada bagian pengunci, dengan cara memutar pada bagian baut
putar. Bila ini masih sulit coba gunakan tang yang dilapisi kain untuk
melepas/mengendurkan bagian pengunci
c.
Neraca empat lengan
Neraca seringkali rusak atau tidak dapat digunakan dikarenakan
faktor kelainan dalam penggunaan, penyimpanan, maupun proses kesetimbangan
(menunjuk angka nol atau setimbang). Terdapat 2 cara untuk memperbaiki
kesetimbangan pada neraca, yaitu cara pertama geser beban kecil skala paling
depan ke kanan sampai mencapai tanda kesetimbangan dan berilah tanda yang
menunjukan angka beberapa dari beban kecil yang telah digeser tersebut. Ketika
digunakan untuk menimbang, maka nilai/angka tersebut nantinya sebagai
pengurang. Cara kedua, pada bagian dudukan piring penimbang yang menggantung, aada
lepas dan bagian bawahnya anda buka menggunakan obeng +, dan diisi atau
dikurangi beban (berupa gotri, paku, besi kecil/bubuk
Gambar 2. Identifikasi Kerusakan Neraca
|
3. Berdasarkan golongan bahan gelas
a.
Termometer
Termometer yang ada di laboratorium fsika ada beberapa jenis,
yaitu termometer umum (berisi raksa atau alkohol), termometer klinis (untuk
mengukur suhu badan), thermometer lab./termometer dinding (untuk mengukurkelembaban
udara) dan termometer maksimum minimum. Masing-masing termometer ini mempunyai
rentang skala yang berbeda, misalnya:
·
-
s.d
(termometer
umum);
·
s.d
±
(termometer klinis);
·
-
s.d
±
C
(termometer dinding);
·
-
s.d
±
C (termometer
maksimum minimum)
Beberapa
masalah yang sering timbul pada termometer adalah sebagai berikut:
·
Termometer pecah pada saat akan diambil / digunakan
·
Skala termometer pudar atau terhapus
·
Cairan dalam termometer terpisah/patah
Untuk memecahkan masalah di atas yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut :
1)
Menjaga termometer agar tidak pecah
a)
Supaya termometer tidak terjatuh saat diambil, pada ujung atas
termometer hendaknya diberi benang (benang kasur) atau tali rafia
b)
Pada waktu termometer digunakan mengukur suhu cairan, termometer
hendaknya tidak digunakan sebagai pengaduk. Ketika digunakan mengukur cairan,
bola termometer disentuhkan pada dasar wadah
c)
Termometer hendaknya disimpan dalam bungkusan (berupa plastik) atau pada
kotak yang terbuat dari dus. Simpan termometer secara horizontal di lemari atau
laci.
2)
Teknik mengatasi termometer yang patah/pecah
Jika cairan dalam termometer terpisah/patah, untuk
menyambungkannya kembali dapat dilakukan dengan cara mereendam termometer dalam
campuran es, air dan garam (jika perlu CO2 kering). Jika tidak
berhasil, letakan termometer dalam freezer sampai cairan dalam termometer
tergabung kembali. Apabila dengan cara di atas masih belum berhasil juga
penaskan termometer dalam air. Pemanasan dilakukan dalam pemanas minyak.
Hati-hati, janngan memansakna melewati kapasitas
temometer itu. (Depdikbud, Panduan Teknis Perawatan Peralatan
Laboratorium Fisika, 2011, hal. 25-53)
BAB III
Kesimpulan
Perawatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi yang
baik dan siap pakai. Dalam kaitannya dengan perawatan peralatan laboratorium,
perawatan yang dilakukan sebagai usaha preventif atau pencegahan agar peralatan tidak rusak atau tetap terjaga
dalam kondisi baik, siap beroperasi.
Jenis-jenis perawatan dibagi menjadi dua bagian yaitu
perawatan terencana dan perawatan tak terencana. Perawatan terencana merupakan bagian dari
sistem manajemen perawatan yang terdiri atas perawatan preventf (preventive
maintenance), perawatan prediktif (
predictive maintenance, dan perawatan korektif (corrective maintenance). Dan perawatan tidak terencana adalah
jenis perawatan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang tidak
diperkirakan sebelumnya.
Kriteria perawatan alat-alat laboratorium yaitu
berdasarkan golongan bahan alat listrik, seperti catu daya atau power supply,
basic meter dan multimeter analog., berdasarkan golongan bahan logam seperti
mikrometer sekrup, jangka sorong dan neraca empat lengan, berdasarakan golongan
bahan gelas seperti termometer
Faktor–faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat
laboratorium diantaranya adalah perubahan suhu, air-asam dan basa . kelembapan
udara, debu dan kotoran, mekanis, cara penyimpanan, dan desain alat dan bahan
dasar alat.
DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud. (2011). Panduan Teknis
Perawatan Peralatan Laboratorium
Biologi. Jakarta : Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Biologi. Jakarta : Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Depdikbud.
(2011). Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium
Fisika. Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Fisika. Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Depdikbud.
(2011). Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium
Kimia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Kimia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen dan Dikmenbud.
Langganan:
Komentar (Atom)
-
FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN ALAT LABORATORIUM, JENIS-JENIS DAN KRITERIA PERAWATAN ALAT LABORATORIUM MAKALAH Disusun Untuk Memenuhi Sa...
-
Halo semua, sebagai guru kita dituntut untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin modern, semuanya terjadi karena t...
-
Topik 4- Aksi Nyata Mahasiswa membuat sebuah tulisan reflektif dalam bentuk artikel atau jurnal untuk menguatkan pemahaman tentang Panca...
