KRITIK SASTRA
“ Cinta Adalah Milik Kita Yang Tau Anugerah Cinta Sesungguhnya”
Disusun Oleh : Sastria Nurul Zahra
Kelas : XII IPA 2
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 4 KOTA SUKABUMI
Jalan. Ir Juanda No 08 Telp. (0266) 221685
Kota Sukabumi
“
Cinta Adalah Milik Kita Yang Tau Anugerah Cinta Sesungguhnya”
Dalam novel yang berjudul “Cinta
Pertama”, penulis Nuniek Karisma Rosalina menceritakan kisah cinta pertama
seorang gadis yang bernama Aninda. Disisi lain penulis menceritakan pula
konflik Ninda dengan keluarga. Isi cerita novel tersebut pada intinya tokoh
utama yakni Ninda yang pada saat itu mengalami cinta pertamanya dengan seorang
lelaki yang bernama Darwin, kemudian suatu hari ada sebuah peristiwa yang membuat
Ninda dipermalukan didepan banyak orang, setelah kejadian tersebut, Darwin
pergi secara tiba-tiba hilang dikehidupan Ninda, sejak itulah Ninda begitu membenci sosok Darwin. Selang beberapa
tahun Ninda dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya dan saat – saat dimana
Ninda merasa hatinya sepi, dan mengingat
kenangan – kenangan cinta pertamanya
bersama Darwin, perasaan benci pun berubah kembali menjadi cinta. Namun pada kenyataannya
hal yang sangat tidak diduga –duga Darwin telah menikah dengan seorang gadis yang
bernama Shanti, teman kampus Darwin yang sebelumnya telah membuat harga diri
Ninda buruk. Disisi lain penulis
menceritakan pula konflik permasalahan Ninda dengan keluarganya dimana Ninda
merasa bahwa dirinya tidak dianggap didalam keluarga karena merasa dirinya
diperlakukan berbeda dengan adiknya yang bernama Mila. Pembaca tidak menemukan
penyebab konflik yang dialami tokoh pada pertengan bab novel, namun pembaca
bisa mengetahui penyebab konflik tersebut pada bab akhir novel. Tampaknya ini
merupakan strategi alur cerita yang dibuat oleh penulis agar sipembaca memiliki
rasa penasaran sehingga dapat membaca novel sampai selesai.
Setelah kita membaca novel
tersebut tedapat beberapa pesan moral yang dapat dijadikan pembelajaran bagi
kita khususnya untuk para remaja “ janganlah terlalu berharap kepada seseorang
yang belum tentu setia, apalagi bila sebelumnya dia sudah mengecewakan kita.
Dalam hal ini kita perlu mengontrol perasaan cinta kita kepada seseorang, jika
dilihat dari sudut agama Manusia diciptakan dengan potensi cinta terhadap
sesuatu, dan potensi cinta yang dimiliki oleh setiap manusia tidak pernah dapat
dibagi sama rata, hati akan selalu cenderung untuk lebih mencintai
sesuatu dari pada yang lainnya.Perhatian dan perlakuan tidaklah berbeda,
tetapi, kecenderungan hati untuk lebih mencintai yang satu dengan lainnya,
adalah merupakan satu fitrah yang tidak bisa di tolak. Inilah potensi cinta
Allah anugerahkan dalam setiap hati manusia, dan melalui potensi inilah lahir
kekuatan cinta yang sangat dahsyat. Dahsyatnya kekuatan cinta dapat membuat
manusia melakukan sesuatu yang berada seakan-akan berada diluar kemampuannya, Kekuatan
cinta dapat mendorong manusia untuk menanggalkan dunia dan seisinya demi mendapatkan
cintanya,Bahkan tidak sedikit kekuatan cinta mendorong manusia untuk tidak
segan-segan menyerahkan jiwa dan raganya..demi cintanya. Pada sisi yang lain
kekuatan cinta, memang tidak selalu dirasakan indah oleh seseorang.Kekuatan ini
dapat pula memberikan dorongan yang sangat berbahaya. Contohnya patah hati, putus
cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dapat mendorong manusia masuk
kedalam jurang keterpurukan yang dalam, kehilangan gairah hidup, kehidupan yang
kacau Tentunya, sebaik-baiknya petunjuk
dalam menggunakan potensi cinta yang kita miliki, haruslah berasal dari sumber
segala cinta, dan Pencipta dari rasa cinta itu sendiri. Maka, Allah berfirman
dalam Al Quran ; (9:24) “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad
di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. Dan dalam ayat tersebut,
Allah telah memperingatkan kita, agar kita bisa lebih mencintai Allah dari pada
yang lain, lalu kita membagi sisanya dengan apa yang kita miliki. Tentunya ada
hikmah dibalik perintah Allah dalam menggunakan potensi cinta yang dimiliki
oleh setiap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kekuatan cinta sangat
berhubungan dengan kesedihan dan kegembiraan. Gunakanlah potensi cinta yang
kita miliki untuk lebih mencintai Allah dari apapun yang ada di dunia ini
sebagaimana yang diterangkan melalui ayat 24 dalam surat at taubah 9 :. Karena
jika kita terlalu mencintai apa yang kita miliki, maka ketika apa yang kita
cintai itu hilang, kegembiraan akan berganti dengan kesedihan yang sebanding
dengan kecintaan kita terhadap apa yang hilang.
Pesan
moral selanjutnya adalah “ janganlah berfikir negative sebelum mengetahui
kebenarannya”, kisah novel ini menceritakan hubungan Ninda (tokoh utama) dengan
keluarganya yang kurang baik, ia merasa sejak kehadiran adiknya didunia Ninda
merasa tidak dianggap dalam keluarganya, karena merasa diperlakukan berbeda
dengan adiknya. Sebabnya ia selalu merasa malas untuk pulang kerumah dan selalu
mencari- cari alasan agar tidak pulang kerumah. Namun pada akhirnya Ninda
mengetahui, apa yang seharusnya ia mengetahui sejak dahulu bahwa adiknya
mengidap penyakit serius sejak lahir. Karena itulah orang tuanya terlihat
bersikap berbeda diantara kedua anaknya. Dalam hal ini perlu kita ketahui bahwa
komunikasi serta sikap kritis dan terbuka dalam suatu keluarga sangat penting
dan dibutuhkan agar terwujudnya keluarga yang harmonis dan menghindari
kesalahpahaman dalam anggota keluarga. Karena dengan terjalinnya komunikasi
yang baik kita dapat mempertanyakan ketidaknyamanan kita pada lingkungan
keluarga. Sehingga kita bisa mengetahui kebenaran ataupun penyebab
ketidaknyamanan tersebut dan tidak akan
terjadi kesalahpahaman. Kesalahpahaman dapat berakhir pada penyesalan, karena
selama kita belum mengetahui kebenaran, maka selama itulah kita tidak tau sikap
yang kita ambil benar atau salah, karena selama itulah kita membuat kesalahan.
Namun bila sikap kita dirasa benar apakah menurut pandangan orang lain benar
pula ?. Jelas salah, Karena dengan begitu kita tidak menyadari betapa
pentingnya sebuah keluarga. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Maka
ciptakanlah hubungan keluarga sebaik mungkin. Dalam permasalahan yang dialami
tokoh Ninda, maka bila kita sebagai orang tua seharusnya orang tua dapat
bertindak tegas dan lebih memperhatikan anaknya, semestinya orang tuapun dapat
mendidik seorang anak untuk bisa mematuhi perintah dan nasihat yang diamanahkan
oleh orang tuanya. Karena pembentukan sikap dan karakter anak dapat berkembang
baik dilingkungan keluarga yang baik, kenyamanan, perhatian orang tua , adanya
rasa kasih sayang terhadap anak. Itu semua akan menumbuhkan rasa cinta seorang
anak terhadap keluarganya.
Gaya bahasa yang digunakan oleh
penulis pada novel tersebut adalah gaya bahasa yang digunakan pada percakapan sehari-
hari oleh anak kuliahan, contoh percakapannya seperti “ Maaf gue lagi buru-
buru “ Gak apa- apa.. eh lo Ninda kan ?. Pembaca tidak menemukan gaya bahasa
yang bermajas atau kiasan yang dapat memperindah gaya bahasa pada novel
tersebut sehingga tidak ada kesan gaya
bahasa bagi pembaca. Tampaknya penulis hanya menekankan isi cerita yang berisi
banyak konflk bagi tokoh utama. Permasalahan konflik tersebut menunjukkan
konflik- konflik yang dialami oleh orang
dewasa yang masih kuliah. Bagi pembaca remaja mungkin ketika mereka selesai membaca novel ini, mereka bisa memiliki
pemahaman serta gambaran ketika mereka sudah dewasa. Pemahaman tersebut dapat
berupa pembelajaran pesan moral yang disampaikan penulis untuk pembaca walaupun
pesan moral tidak tertulis secara langsung pada novel. Setidaknya kita dapat
menyimpulkan apa yang dapat dijadikan pembelajaran bagi hidup kita.
Secara keseluruhan novel karangan
Nuniek K.R ini cukup bagus. Menyuguhkan berbagai
konflik-konflik seru yang dialami tokoh utama dan orang-orang disekelilingnya
sehingga membuat penasaran bagi si pembaca. Namun konflik yang ditonjolkan pada
umumnya lebih cocok untuk orang dewasa, sehingga bagi para remaja yang
membacanya lebih mempelihatkan gambaran koflik yang bisa saja mereka mengalami
saat sudah dewasa. Itu semua tergantung si pembaca novel bisa memahami dan
mencermati isi novel, sehinga pembaca dapat merasakan pesan moral yang tersirat
pada isi novel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar