Senin, 13 Mei 2024

Tantangan dan Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21

 

Topik 4- Aksi Nyata

Mahasiswa membuat sebuah tulisan reflektif dalam bentuk artikel atau jurnal untuk menguatkan pemahaman tentang Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21 dengan mengacu pada panduan berikut:

1.      Mahasiswa mengobservasi secara kritis apa tantangan menghayati Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21.

2.      Mahasiswa menuliskan secara kritis bagaimana Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21 di ekosistem sekolah (kelas).

Tulisan Reflektif  Mengenai Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tantangan dan Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21

Artikel ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman tentang Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia serta perwujudan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21.  Setelah saya mempelajari Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa, serta perwujudan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad 21 di perkuliahan, saya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelajar Pancasila, saya menyadari bahwa nilai-nilai ini harus menjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dunia pendidikan. Dalam pendidikan abad 21, profil pelajar Pancasila dituntut untuk memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi landasan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan abad ke-21 yang berpihak pada peserta didik memiliki peran penting dalam membentuk profil pelajar Pancasila yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang Pancasila dan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dalam mengimplementasikan Pancasila dalam pendidikan abad ke-21, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar profil pelajar Pancasila dapat terwujud secara optimal.

Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Namun, dalam menghayati Pancasila dan mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21, terdapat tantangan yang perlu dihadapi. Tantangan ini meliputi pemahaman yang dangkal tentang Pancasila, kurangnya pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta perbedaan interpretasi terhadap nilai-nilai Pancasila.

Tantangan dalam Menghayati Pancasila:

1.      Pemahaman yang Dangkal

Salah satu tantangan utama dalam menghayati Pancasila adalah pemahaman yang dangkal terhadap nilai-nilai Pancasila. Banyak peserta didik yang hanya menghafalkan sila-sila Pancasila tanpa memahami makna dan filosofinya secara mendalam. Hal ini dapat menghambat pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Kurangnya Pengaplikasian Nilai-nilai Pancasila

Tantangan lainnya adalah kurangnya pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun peserta didik memahami nilai-nilai Pancasila, namun jika tidak mampu mengaplikasikannya dalam tindakan nyata, maka tujuan pendidikan Pancasila tidak tercapai secara optimal.

3.      Perbedaan Pandangan terhadap Pancasila

Pancasila sebagai ideologi negara dapat diinterpretasikan dengan beragam cara oleh masyarakat. Tantangan yang dihadapi adalah adanya perbedaan interpretasi terhadap nilai-nilai Pancasila, baik dalam konteks agama, budaya, maupun politik. Hal ini dapat mempengaruhi pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan abad ke-21.

Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21:

1.      Peningkatan Pemahaman

Salah satu upaya untuk mengatasi tantangan pemahaman yang dangkal adalah dengan meningkatkan pemahaman peserta didik tentang nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, mendalam, dan kontekstual.

2.      Pembelajaran Berbasis Praktik

Untuk mengatasi tantangan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila, pendidikan abad ke-21 perlu menerapkan pembelajaran berbasis praktik yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan nyata yang mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

3.      Dialog dan Diskusi

Untuk mengatasi perbedaan interpretasi terhadap Pancasila, pendidikan abad ke-21 perlu mendorong dialog dan diskusi yang terbuka antara peserta didik, pendidik, dan masyarakat. Hal ini dapat membantu memperkuat pemahaman dan mengatasi perbedaan interpretasi.

4.      Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran kolaboratif yang melibatkan peserta didik dalam kerja kelompok dapat membantu mengatasi tantangan dalam menghayati Pancasila. Dalam kerja kelompok, peserta didik dapat saling berbagi pemahaman dan pengalaman tentang nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, ekosistem sekolah, terutama dalam kelas, memiliki peran sentral dalam memperkuat pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui pendekatan yang tepat, profil pelajar Pancasila dapat terwujud secara optimal di dalam ekosistem sekolah. Dalam ekosistem sekolah, Pancasila dapat diintegrasikan dalam berbagai aspek, seperti kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan nilai-nilai yang diterapkan di dalam kelas. Pancasila menjadi landasan yang kuat dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.

Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21 di Ekosistem Sekolah (Kelas) diantaranya:

                                    


1.      Pembelajaran Nilai Pancasila

Dalam kelas, pendidik dapat mengintegrasikan pembelajaran nilai-nilai Pancasila melalui berbagai kegiatan, diskusi, dan refleksi. Peserta didik perlu diberikan pemahaman mendalam tentang makna dan filosofi setiap sila Pancasila serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Budaya Demokrasi dalam Kelas

Ekosistem sekolah yang berpihak pada peserta didik harus menciptakan budaya demokrasi di dalam kelas. Peserta didik perlu diajak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, berdiskusi secara terbuka, dan menghargai pendapat serta perbedaan sudut pandang.

3.      Kolaborasi dan Kerjasama

Dalam kelas, pendidik dapat mendorong kolaborasi dan kerjasama antara peserta didik dalam tugas-tugas kelompok. Melalui kerjasama, peserta didik dapat belajar untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menghormati perbedaan dalam mencapai tujuan bersama.

4.      Pembelajaran Berbasis Proyek

Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi sarana untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam konteks nyata. Peserta didik dapat diberikan tugas proyek yang membutuhkan pemecahan masalah, kerjasama, dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam merancang dan melaksanakan proyek tersebut.

5.      Penguatan Pendidikan Karakter

Ekosistem sekolah perlu mendorong penguatan pendidikan karakter yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila. Peserta didik perlu dilibatkan dalam kegiatan yang mengembangkan sikap saling menghargai, gotong royong, kejujuran, dan tanggung jawab.

Kesimpulan:

Menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia serta mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21 tidaklah mudah. Terdapat tantangan dalam pemahaman yang dangkal, pengaplikasian nilai-nilai Pancasila, dan perbedaan interpretasi. Namun, dengan upaya yang tepat, seperti peningkatan pemahaman, pembelajaran berbasis praktik, dialog dan diskusi, serta pembelajaran kolaboratif, tantangan ini dapat diatasi. Dengan demikian, profil pelajar Pancasila yang mampu menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat terwujud dalam pendidikan abad ke-21.

Senin, 06 Mei 2024

Tulisan Reflektif Identitas Manusia Indonesia di SDN 029 Cilengkrang

 

Topik 3– Aksi Nyata- Filosofi Pendidikan 

Mahasiswa membuat sebuah tulisan reflektif dalam bentuk artikel atau jurnal untuk menguatkan pemahaman tentang identitas manusia Indonesia dengan mengacu pada panduan berikut:

1.      Mahasiswa mengobservasi secara kritis tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan;

2.      Mahasiswa menuliskan secara kritis bagaimana penghayatan nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolah menguatkan identitas manusia Indonesia.


Tulisan Reflektif Identitas Manusia Indonesia di SDN 029 Cilengkrang 

Identitas manusia Indonesia adalah sesuatu yang begitu kaya dan kompleks. Melalui perkuliahan ini, saya mengetahui bahwa manusia Indonesia itu khas dan unik. Indonesia sebagai rumah bagi kita dengan warga negaranya yang majemuk dan bermacam-macam mulai dari latar belakang, agama, Bahasa, adat istiadat, kebudayaan, suku, dan lain sebagainya. Namun demikian, kita sebagai warga negara hidup rukun tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya, karena kita sebagai warga negara Indonesia dibawah payung yang bernama Bhineka Tunggal Ika.

Bagi saya, identitas manusia Indonesia mencakup beragam aspek, mulai dari keberagaman budaya, sejarah panjang, nilai-nilai yang dianut, hingga semangat gotong royong yang tercermin dalam berbagai tradisi dan kebiasaan sehari-hari. Pemahaman saya tentang identitas manusia Indonesia juga mencakup keberanian untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman, sambil tetap mempertahankan akar budaya yang kuat. Saya percaya bahwa identitas kita sebagai manusia Indonesia juga tercermin dalam sikap ramah, toleransi, dan keberagaman yang menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan. Bagi saya, menjadi manusia Indonesia berarti merayakan perbedaan, menghargai warisan nenek moyang, dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. Identitas kita sebagai manusia Indonesia adalah sumber kekuatan dan kebanggaan yang selalu menginspirasi untuk terus maju ke depan.

Dalam mengobservasi secara kritis tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan yang terdapat di sekolah dasar, kita dapat melihat beberapa hal yang penting. Pertama, tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dapat mencerminkan nilai-nilai dan budaya yang ditanamkan di lingkungan pendidikan. Seperti, lambang atau logo sekolah dapat menjadi simbol dari identitas dan karakter sekolah tersebut. Selain itu, tanda-tanda yang mengarah pada kebersihan, keselamatan, atau nilai-nilai positif lainnya juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Berdasarkan hasil observasi di sekolah tempat PPL saya yaitu SDN 029 Cilengkrang, terdapat kegiatan-kegiatan disekolah yang bertujuan untuk mengembangkan nilai religi, nilai-nilai sportifitas kehidupan berbangsa dan bernegara pembentukan karakter peserta didik dilakukan, kegiatan tersebut dilakukan secara rutin, terprogram dan secara spontan. Berikut adalah penjelasan lebih lengkapnya:

a.     Pembiasaan Rutin

1)      Sholat berjamaah

2)      Upacara bendera setiap hari Senin

3)      Berdoa sebelum dan sesudah belajar

4)      Program sapa pagi

5)      Program membawa misting dan tumbler dari rumah

6)      Gerakan pungut sampah

7)      Program membersihkan toilet

8)      Pengajian setiap hari Jum'at dan Sholat dhuha bersama-sama.

9)      Pemeriksaan kebersihan badan serta pakaian sebelum masuk kelas

10)  Membersihkan kelas serta halaman sebelum dan sesudah belajar

11)  Membaca buku di perpustakaan

Pembiasaan Literasi Siswa SDN 029 Cilengkrang
 Membaca Buku di Perputakan. 

Pembiasaan Solat Duha di Lapangan Setiap Hari Jum'at 

Berdasarkan hasil observasi selama PPL mengenai  kegiatan pembiasaan rutin di SDN 029 Cilengkrang, hampir semua kegiatan pembiasaan rutin dilakukan setiap harinya oleh peserta didik mencerminkan nilai-nilai positif yang sangat membantu membentuk karakter peserta didik yang nasionalis, religius, peduli lingkungan, kebhinekatunggalikaan, dan nilai-nilai Pancasila.

b. Pembiasaan Terprogram

1)      Pekan Kreatifitas dan olahraga / kegiatan jeda semester

2)      Hari Besar Nasional



Saya bersama teman menjadi MC pembukaan peringatan Isra Mi'raj 

Berfoto bersama dengan teman Mahasiswa PPL dan
Guru Pamong SDN 029 Cilengkrang

Berdasarkan hasil observasi selama lebih dari tiga bulan meksanakan PPL di SDN 029 Cilengkrang, terdapat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah yang termasuk kegiatan terprogram yaitu kegiatan memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Kegiatan Sanlat yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Kegiatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW diisi dengan kegiatan-kegiatan lomba pentas PAI, seperti lomba MTQ, BTQ, kaligrafi, cerdas cermat PAI, fashion show dengan berpakaian muslim, Muslimah dll, kegiatan tersebut tentunya bermanfaat bagi peserta didik dalam menumbuhkan rasa religius dan minatnya dibidang keagamaan. Selain itu terdapat kegiatan sanlat yang diisi dengan memperdalam materi keagamaan dan kegiatan bakti social seperti mengumpulkan beras, uang infaq, dan makanan untuk kegiatan bakti social, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa empati dan gotong royong yang menceriminkan nilai- nilai Pancasila.

c.    Pembiasaan Spontan

1)      Membiasakan memberi salam

2)      Membiasakan berbicara yang sopan dan santun

3)      Membiasakan membuang sampah pada tempatnya

4)      Membiasakan antri

5)      Membiasakan membantu teman yang kena musibah

6)      Berdiskusi dengan baik dan benar

7)      Kerja bakti

 

Kegiatan diskusi dikelas 

Kegiatan mengajar Angklung 

Berdasarkan hasil observasi selama lebih dari tiga bulan meksanakan PPL di SDN 029 Cilengkrang, pembiasaan spontan yang sering saya temui membiasakan memberi salam dan bekerja bakti, kedua kegiatan tersebut seringkali saya temui setiap harinya, dan pembiasaan spontan lainnya saya rasa perlu ditingkatkan lagi. Tentunya pembiasaan tersebu bernilai positif dan dapat menumbuhkan rasa menghormati guru dan gotong royong.

d.     Kegiatan Keteladanan: Kegiatan Keteladanan dalah kegiatan yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja yang lebih mengutamakan pemberian contoh dari guru dan pengelola pendidikan yang lainkepada peserta didiknya.

1)       Membudayakan kebersihan dan kesehatan pada semua warga sekolah

2)      Mentaati tata tertib yang berlaku di sekolah

3)      Memberi contoh berpakaian rapih dan bersih

4)      Memberi contoh tepat waktu dalam segala hal

5)      Memberi contoh penampilan sederhana

6)      Menanamkan budaya membaca

7)      Memberi contoh tidak merokok dilingkungan sekolah

8)      Memuji hasil kerja peserta didik yang baik.

 

Kegiatan rutin Upacara Bendera

Foto hasil Karya anak di Kelas

Berdasarkan hasil  observasi selama PPL, terdapat beberapa poin kegiatan keteladan yang sering saya temukan disekolah, yaitu poin tiga, lima, enam ,tujuh dan delapan. Kegitan keteladan ini mencerminkan implementasi konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa guru adalah dapat memberikan contoh, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru oleh muridnya. Saya rasa kegiatan keteladanan ini bernilai positif dan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

e.       Kegiatan Nasionalisme dan Patriotisme

1)      Peringatan Hari Kemerdekaan RI

2)      Peringatan Hari Pahlawan

3)       Peringatan Hari Pendidikan Nasional

4)      Upacara

 

Kegiatan Pramuka di hari Rabu

Kegiatan Rutin Potret Upacara dihari Senin 

Berdasarkan hasil observasi selama PPL, selama PPL, sekolah selalu melakukan kegiatan rutin upacara bendera di hari senin, tentanya kegiatan tersebut sangat bernilai positif guna menumbuhkan rasa disiplin, rasa nasionalisme dan patriotiseme terhadap bangsa dan negara.

Kedua, proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan di sekolah dasar mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya menghormati perbedaan dan merayakan keberagaman. Melalui pembelajaran ini, siswa dapat memahami nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan saling menghormati antar individu.


Kegiatan Pembagian Baksos
dalam Penutupan Kegiatan Sanlat



Potret Guru-Guru dan Mahasiswa PPL
membantu mengemas beras untuk Baksos SDN 029 Cilengkrang

Latar belakang peserta didik berada pada tingkat ekonomi menengah bahkan termasuk ekonomi menengah ke bawah dengan sarana prasarana yang cukup memadai dalam mendukung proses pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Latar belakang keagamaan peserta didik hampir 99% mayoritas Islam. Secara sosial budaya, peserta didik memiliki latar belakang orang tua yang berbeda budaya yang disebabkan dari sebagian orang tua merupakan petani, peternak, dan karyawan atau pedagang bahkan pegawai yang ditempatkan tugas di Kota Bandung dan berasal dari luar daerah. Selain itu, minat bakat peserta didik juga yang sangat beragam. Berdasarkan perbedaan latar belakang tersebut maka memperkuat pelaksanaan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang diimplementasikan secara utuh di SDN 029 Cilengkrang dengan motto "SDN 029 Cilengkrang Bersama Kita Bisa".

Berdasarkan observasi selama kegiatan PPL, dengan mempertimbangkang latar belakang agama peserta didik yang hampir 99% beragama Islam, maka sekolah tersebut menunjukkan dukungan pendidikan keagamaan baik dalam kegiatan rutin maupun terprogram seperti kegiatan solat duha berjamaan, memperingati Isra  Mi’raj dan kegiatan sanlat. Di dalam kegiatan tersebut, ditanamkan sikap untuk saling menghargai keberagaman, dengan mempertimbangkan latar belakang social, budaya, termasuk latar belakang ekonomi orang tua peserta didik yang beragam, sekolah secara eksplit mengajarkan peserta didik untuk berbagi dalam kegiatan bakti social yang dilakukan pada saat kegiatan sanlat di bulan Ramadhan, tentunya kegiatan tersebut bernilai positif dan dapat menumbuhkan rasa empati, nilai religius, nilai kebhineka tunggal ikaan dan nilai Pancasila.