Senin, 13 Mei 2024

Tantangan dan Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21

 

Topik 4- Aksi Nyata

Mahasiswa membuat sebuah tulisan reflektif dalam bentuk artikel atau jurnal untuk menguatkan pemahaman tentang Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21 dengan mengacu pada panduan berikut:

1.      Mahasiswa mengobservasi secara kritis apa tantangan menghayati Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21.

2.      Mahasiswa menuliskan secara kritis bagaimana Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad ke-21 di ekosistem sekolah (kelas).

Tulisan Reflektif  Mengenai Pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tantangan dan Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21

Artikel ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman tentang Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia serta perwujudan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21.  Setelah saya mempelajari Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa, serta perwujudan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad 21 di perkuliahan, saya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelajar Pancasila, saya menyadari bahwa nilai-nilai ini harus menjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dunia pendidikan. Dalam pendidikan abad 21, profil pelajar Pancasila dituntut untuk memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi landasan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan abad ke-21 yang berpihak pada peserta didik memiliki peran penting dalam membentuk profil pelajar Pancasila yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang Pancasila dan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dalam mengimplementasikan Pancasila dalam pendidikan abad ke-21, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar profil pelajar Pancasila dapat terwujud secara optimal.

Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Namun, dalam menghayati Pancasila dan mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21, terdapat tantangan yang perlu dihadapi. Tantangan ini meliputi pemahaman yang dangkal tentang Pancasila, kurangnya pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta perbedaan interpretasi terhadap nilai-nilai Pancasila.

Tantangan dalam Menghayati Pancasila:

1.      Pemahaman yang Dangkal

Salah satu tantangan utama dalam menghayati Pancasila adalah pemahaman yang dangkal terhadap nilai-nilai Pancasila. Banyak peserta didik yang hanya menghafalkan sila-sila Pancasila tanpa memahami makna dan filosofinya secara mendalam. Hal ini dapat menghambat pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Kurangnya Pengaplikasian Nilai-nilai Pancasila

Tantangan lainnya adalah kurangnya pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun peserta didik memahami nilai-nilai Pancasila, namun jika tidak mampu mengaplikasikannya dalam tindakan nyata, maka tujuan pendidikan Pancasila tidak tercapai secara optimal.

3.      Perbedaan Pandangan terhadap Pancasila

Pancasila sebagai ideologi negara dapat diinterpretasikan dengan beragam cara oleh masyarakat. Tantangan yang dihadapi adalah adanya perbedaan interpretasi terhadap nilai-nilai Pancasila, baik dalam konteks agama, budaya, maupun politik. Hal ini dapat mempengaruhi pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan abad ke-21.

Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21:

1.      Peningkatan Pemahaman

Salah satu upaya untuk mengatasi tantangan pemahaman yang dangkal adalah dengan meningkatkan pemahaman peserta didik tentang nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, mendalam, dan kontekstual.

2.      Pembelajaran Berbasis Praktik

Untuk mengatasi tantangan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila, pendidikan abad ke-21 perlu menerapkan pembelajaran berbasis praktik yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan nyata yang mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

3.      Dialog dan Diskusi

Untuk mengatasi perbedaan interpretasi terhadap Pancasila, pendidikan abad ke-21 perlu mendorong dialog dan diskusi yang terbuka antara peserta didik, pendidik, dan masyarakat. Hal ini dapat membantu memperkuat pemahaman dan mengatasi perbedaan interpretasi.

4.      Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran kolaboratif yang melibatkan peserta didik dalam kerja kelompok dapat membantu mengatasi tantangan dalam menghayati Pancasila. Dalam kerja kelompok, peserta didik dapat saling berbagi pemahaman dan pengalaman tentang nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, ekosistem sekolah, terutama dalam kelas, memiliki peran sentral dalam memperkuat pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui pendekatan yang tepat, profil pelajar Pancasila dapat terwujud secara optimal di dalam ekosistem sekolah. Dalam ekosistem sekolah, Pancasila dapat diintegrasikan dalam berbagai aspek, seperti kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan nilai-nilai yang diterapkan di dalam kelas. Pancasila menjadi landasan yang kuat dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.

Perwujudan Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Abad ke-21 di Ekosistem Sekolah (Kelas) diantaranya:

                                    


1.      Pembelajaran Nilai Pancasila

Dalam kelas, pendidik dapat mengintegrasikan pembelajaran nilai-nilai Pancasila melalui berbagai kegiatan, diskusi, dan refleksi. Peserta didik perlu diberikan pemahaman mendalam tentang makna dan filosofi setiap sila Pancasila serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Budaya Demokrasi dalam Kelas

Ekosistem sekolah yang berpihak pada peserta didik harus menciptakan budaya demokrasi di dalam kelas. Peserta didik perlu diajak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, berdiskusi secara terbuka, dan menghargai pendapat serta perbedaan sudut pandang.

3.      Kolaborasi dan Kerjasama

Dalam kelas, pendidik dapat mendorong kolaborasi dan kerjasama antara peserta didik dalam tugas-tugas kelompok. Melalui kerjasama, peserta didik dapat belajar untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menghormati perbedaan dalam mencapai tujuan bersama.

4.      Pembelajaran Berbasis Proyek

Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi sarana untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam konteks nyata. Peserta didik dapat diberikan tugas proyek yang membutuhkan pemecahan masalah, kerjasama, dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam merancang dan melaksanakan proyek tersebut.

5.      Penguatan Pendidikan Karakter

Ekosistem sekolah perlu mendorong penguatan pendidikan karakter yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila. Peserta didik perlu dilibatkan dalam kegiatan yang mengembangkan sikap saling menghargai, gotong royong, kejujuran, dan tanggung jawab.

Kesimpulan:

Menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia serta mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21 tidaklah mudah. Terdapat tantangan dalam pemahaman yang dangkal, pengaplikasian nilai-nilai Pancasila, dan perbedaan interpretasi. Namun, dengan upaya yang tepat, seperti peningkatan pemahaman, pembelajaran berbasis praktik, dialog dan diskusi, serta pembelajaran kolaboratif, tantangan ini dapat diatasi. Dengan demikian, profil pelajar Pancasila yang mampu menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat terwujud dalam pendidikan abad ke-21.

Senin, 06 Mei 2024

Tulisan Reflektif Identitas Manusia Indonesia di SDN 029 Cilengkrang

 

Topik 3– Aksi Nyata- Filosofi Pendidikan 

Mahasiswa membuat sebuah tulisan reflektif dalam bentuk artikel atau jurnal untuk menguatkan pemahaman tentang identitas manusia Indonesia dengan mengacu pada panduan berikut:

1.      Mahasiswa mengobservasi secara kritis tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan;

2.      Mahasiswa menuliskan secara kritis bagaimana penghayatan nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolah menguatkan identitas manusia Indonesia.


Tulisan Reflektif Identitas Manusia Indonesia di SDN 029 Cilengkrang 

Identitas manusia Indonesia adalah sesuatu yang begitu kaya dan kompleks. Melalui perkuliahan ini, saya mengetahui bahwa manusia Indonesia itu khas dan unik. Indonesia sebagai rumah bagi kita dengan warga negaranya yang majemuk dan bermacam-macam mulai dari latar belakang, agama, Bahasa, adat istiadat, kebudayaan, suku, dan lain sebagainya. Namun demikian, kita sebagai warga negara hidup rukun tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya, karena kita sebagai warga negara Indonesia dibawah payung yang bernama Bhineka Tunggal Ika.

Bagi saya, identitas manusia Indonesia mencakup beragam aspek, mulai dari keberagaman budaya, sejarah panjang, nilai-nilai yang dianut, hingga semangat gotong royong yang tercermin dalam berbagai tradisi dan kebiasaan sehari-hari. Pemahaman saya tentang identitas manusia Indonesia juga mencakup keberanian untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman, sambil tetap mempertahankan akar budaya yang kuat. Saya percaya bahwa identitas kita sebagai manusia Indonesia juga tercermin dalam sikap ramah, toleransi, dan keberagaman yang menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan. Bagi saya, menjadi manusia Indonesia berarti merayakan perbedaan, menghargai warisan nenek moyang, dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. Identitas kita sebagai manusia Indonesia adalah sumber kekuatan dan kebanggaan yang selalu menginspirasi untuk terus maju ke depan.

Dalam mengobservasi secara kritis tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan yang terdapat di sekolah dasar, kita dapat melihat beberapa hal yang penting. Pertama, tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dapat mencerminkan nilai-nilai dan budaya yang ditanamkan di lingkungan pendidikan. Seperti, lambang atau logo sekolah dapat menjadi simbol dari identitas dan karakter sekolah tersebut. Selain itu, tanda-tanda yang mengarah pada kebersihan, keselamatan, atau nilai-nilai positif lainnya juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Berdasarkan hasil observasi di sekolah tempat PPL saya yaitu SDN 029 Cilengkrang, terdapat kegiatan-kegiatan disekolah yang bertujuan untuk mengembangkan nilai religi, nilai-nilai sportifitas kehidupan berbangsa dan bernegara pembentukan karakter peserta didik dilakukan, kegiatan tersebut dilakukan secara rutin, terprogram dan secara spontan. Berikut adalah penjelasan lebih lengkapnya:

a.     Pembiasaan Rutin

1)      Sholat berjamaah

2)      Upacara bendera setiap hari Senin

3)      Berdoa sebelum dan sesudah belajar

4)      Program sapa pagi

5)      Program membawa misting dan tumbler dari rumah

6)      Gerakan pungut sampah

7)      Program membersihkan toilet

8)      Pengajian setiap hari Jum'at dan Sholat dhuha bersama-sama.

9)      Pemeriksaan kebersihan badan serta pakaian sebelum masuk kelas

10)  Membersihkan kelas serta halaman sebelum dan sesudah belajar

11)  Membaca buku di perpustakaan

Pembiasaan Literasi Siswa SDN 029 Cilengkrang
 Membaca Buku di Perputakan. 

Pembiasaan Solat Duha di Lapangan Setiap Hari Jum'at 

Berdasarkan hasil observasi selama PPL mengenai  kegiatan pembiasaan rutin di SDN 029 Cilengkrang, hampir semua kegiatan pembiasaan rutin dilakukan setiap harinya oleh peserta didik mencerminkan nilai-nilai positif yang sangat membantu membentuk karakter peserta didik yang nasionalis, religius, peduli lingkungan, kebhinekatunggalikaan, dan nilai-nilai Pancasila.

b. Pembiasaan Terprogram

1)      Pekan Kreatifitas dan olahraga / kegiatan jeda semester

2)      Hari Besar Nasional



Saya bersama teman menjadi MC pembukaan peringatan Isra Mi'raj 

Berfoto bersama dengan teman Mahasiswa PPL dan
Guru Pamong SDN 029 Cilengkrang

Berdasarkan hasil observasi selama lebih dari tiga bulan meksanakan PPL di SDN 029 Cilengkrang, terdapat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah yang termasuk kegiatan terprogram yaitu kegiatan memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Kegiatan Sanlat yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Kegiatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW diisi dengan kegiatan-kegiatan lomba pentas PAI, seperti lomba MTQ, BTQ, kaligrafi, cerdas cermat PAI, fashion show dengan berpakaian muslim, Muslimah dll, kegiatan tersebut tentunya bermanfaat bagi peserta didik dalam menumbuhkan rasa religius dan minatnya dibidang keagamaan. Selain itu terdapat kegiatan sanlat yang diisi dengan memperdalam materi keagamaan dan kegiatan bakti social seperti mengumpulkan beras, uang infaq, dan makanan untuk kegiatan bakti social, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa empati dan gotong royong yang menceriminkan nilai- nilai Pancasila.

c.    Pembiasaan Spontan

1)      Membiasakan memberi salam

2)      Membiasakan berbicara yang sopan dan santun

3)      Membiasakan membuang sampah pada tempatnya

4)      Membiasakan antri

5)      Membiasakan membantu teman yang kena musibah

6)      Berdiskusi dengan baik dan benar

7)      Kerja bakti

 

Kegiatan diskusi dikelas 

Kegiatan mengajar Angklung 

Berdasarkan hasil observasi selama lebih dari tiga bulan meksanakan PPL di SDN 029 Cilengkrang, pembiasaan spontan yang sering saya temui membiasakan memberi salam dan bekerja bakti, kedua kegiatan tersebut seringkali saya temui setiap harinya, dan pembiasaan spontan lainnya saya rasa perlu ditingkatkan lagi. Tentunya pembiasaan tersebu bernilai positif dan dapat menumbuhkan rasa menghormati guru dan gotong royong.

d.     Kegiatan Keteladanan: Kegiatan Keteladanan dalah kegiatan yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja yang lebih mengutamakan pemberian contoh dari guru dan pengelola pendidikan yang lainkepada peserta didiknya.

1)       Membudayakan kebersihan dan kesehatan pada semua warga sekolah

2)      Mentaati tata tertib yang berlaku di sekolah

3)      Memberi contoh berpakaian rapih dan bersih

4)      Memberi contoh tepat waktu dalam segala hal

5)      Memberi contoh penampilan sederhana

6)      Menanamkan budaya membaca

7)      Memberi contoh tidak merokok dilingkungan sekolah

8)      Memuji hasil kerja peserta didik yang baik.

 

Kegiatan rutin Upacara Bendera

Foto hasil Karya anak di Kelas

Berdasarkan hasil  observasi selama PPL, terdapat beberapa poin kegiatan keteladan yang sering saya temukan disekolah, yaitu poin tiga, lima, enam ,tujuh dan delapan. Kegitan keteladan ini mencerminkan implementasi konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa guru adalah dapat memberikan contoh, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru oleh muridnya. Saya rasa kegiatan keteladanan ini bernilai positif dan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

e.       Kegiatan Nasionalisme dan Patriotisme

1)      Peringatan Hari Kemerdekaan RI

2)      Peringatan Hari Pahlawan

3)       Peringatan Hari Pendidikan Nasional

4)      Upacara

 

Kegiatan Pramuka di hari Rabu

Kegiatan Rutin Potret Upacara dihari Senin 

Berdasarkan hasil observasi selama PPL, selama PPL, sekolah selalu melakukan kegiatan rutin upacara bendera di hari senin, tentanya kegiatan tersebut sangat bernilai positif guna menumbuhkan rasa disiplin, rasa nasionalisme dan patriotiseme terhadap bangsa dan negara.

Kedua, proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan di sekolah dasar mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya menghormati perbedaan dan merayakan keberagaman. Melalui pembelajaran ini, siswa dapat memahami nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan saling menghormati antar individu.


Kegiatan Pembagian Baksos
dalam Penutupan Kegiatan Sanlat



Potret Guru-Guru dan Mahasiswa PPL
membantu mengemas beras untuk Baksos SDN 029 Cilengkrang

Latar belakang peserta didik berada pada tingkat ekonomi menengah bahkan termasuk ekonomi menengah ke bawah dengan sarana prasarana yang cukup memadai dalam mendukung proses pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Latar belakang keagamaan peserta didik hampir 99% mayoritas Islam. Secara sosial budaya, peserta didik memiliki latar belakang orang tua yang berbeda budaya yang disebabkan dari sebagian orang tua merupakan petani, peternak, dan karyawan atau pedagang bahkan pegawai yang ditempatkan tugas di Kota Bandung dan berasal dari luar daerah. Selain itu, minat bakat peserta didik juga yang sangat beragam. Berdasarkan perbedaan latar belakang tersebut maka memperkuat pelaksanaan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang diimplementasikan secara utuh di SDN 029 Cilengkrang dengan motto "SDN 029 Cilengkrang Bersama Kita Bisa".

Berdasarkan observasi selama kegiatan PPL, dengan mempertimbangkang latar belakang agama peserta didik yang hampir 99% beragama Islam, maka sekolah tersebut menunjukkan dukungan pendidikan keagamaan baik dalam kegiatan rutin maupun terprogram seperti kegiatan solat duha berjamaan, memperingati Isra  Mi’raj dan kegiatan sanlat. Di dalam kegiatan tersebut, ditanamkan sikap untuk saling menghargai keberagaman, dengan mempertimbangkan latar belakang social, budaya, termasuk latar belakang ekonomi orang tua peserta didik yang beragam, sekolah secara eksplit mengajarkan peserta didik untuk berbagi dalam kegiatan bakti social yang dilakukan pada saat kegiatan sanlat di bulan Ramadhan, tentunya kegiatan tersebut bernilai positif dan dapat menumbuhkan rasa empati, nilai religius, nilai kebhineka tunggal ikaan dan nilai Pancasila.

 

Kamis, 29 Februari 2024

Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

 




Memilih menjadi seorang guru bukanlah suatu kesengajaan, karena sejak kecil profesi guru tidaklah asing bagi saya, figure seorang guru bukan hanya dikenal lewat guru saya dari sejak TK, namun kedua orang tua saya juga berprofesi sebagai guru, dan saya rasa menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk dan mendidik generasi bangsa. Menjadi guru adalah sebuah tantangan, seiring perkembangan zaman yang semakin modern khususnya teknlogi digital yang semakin canggih dapat mempengaruhi system pendidikan, maka guru dituntut agar dapat terus belajar untuk memahami dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan sehingga Pendidikan dapat berjalan dan selaras dengan perkembangan zaman. Karena bagaimanapun seorang pendidik memiliki peran penting dalam proses Pendidikan dan tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi, sebab pendidik adalah manusia yang dapat memberikan respon secara emosional, menyesuaikan pendekatan berdasarkan kebutuhan peserta didik, memberikan arahan, mengkonfirmasi kebenaran dan memberikan evaluasi serta reflesi untuk peserta didik.

Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah proses untuk mengembangkan budi pekerti (atau karakter dan kekuatan batin), pikiran, dan tubuh anak. Ini berarti pendidikan tidak hanya fokus pada aspek intelektual, tetapi juga aspek moral dan fisik. Selain itu, pendidikan juga dipandang sebagai tempat untuk menumbuhkan dan memelihara budaya yang ada dalam masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan juga berperan dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban. Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan alam dan zaman anak-anak kita. Ini berarti pendidikan harus relevan dengan konteks sosial, budaya, dan zaman di mana anak-anak kita hidup.

Terakhir, beliau juga menegaskan bahwa proses tumbuh dan berkembangnya anak tidak sepenuhnya tergantung pada pendidik. Ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses yang melibatkan banyak faktor, tidak hanya pendidik, tetapi juga lingkungan, masyarakat, dan anak itu sendiri. Jadi, pada intinya, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah proses holistik yang melibatkan pengembangan budi pekerti, pikiran, dan tubuh, serta melestarikan dan mengembangkan budaya, dan harus relevan dengan konteks sosial dan zaman.

Sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya selama era kolonial Belanda, pada masa itu, pendidikan merupakan bagian dari politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial. Politik etis adalah suatu kebijakan yang mencakup aspek pendidikan, irigasi, dan transmigrasi, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, sistem pendidikan pada masa itu hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu, seperti golongan atas dan calon pegawai, sehingga terjadi diskriminasi. Ini berarti bahwa akses ke pendidikan tidak merata dan hanya terbatas untuk beberapa kelompok saja. 

Meskipun demikian, pendidikan kolonial berhasil melahirkan beberapa tokoh terpelajar yang kemudian berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Soetomo (pendiri Budi Utomo), Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara (pendiri Sekolah Taman Siswa), K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan R.A Kartini (pionir emansipasi perempuan). Mereka semua berkontribusi dalam perjuangan untuk melepaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme. Jadi, meskipun pendidikan pada masa kolonial memiliki banyak kekurangan, seperti diskriminasi, namun juga memiliki dampak positif dalam melahirkan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. 

Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi simbol kebebasan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara menerapkan "sistem among" dalam pendidikan, yang menempatkan anak-anak sebagai pusat dalam proses pendidikan. "Among" dalam bahasa Jawa berarti "mengayomi" atau "memelihara". Dalam sistem ini, guru atau "pamong" memiliki tiga peran utama yang diwujudkan dalam prinsip "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani". "Ing ngarsa sung tuladha" berarti seorang guru harus mampu menjadi contoh yang baik di depan anak didiknya. "Ing madya mangun karsa" berarti guru harus mampu membangkitkan dan menumbuhkan minat dan kemauan anak untuk berkembang dan berkarya. Sementara "tutwuri handayani" berarti guru harus mampu mengikuti dari belakang, memberikan kebebasan, kesempatan, dan bimbingan agar anak dapat berkembang sesuai dengan inisiatifnya sendiri. Jadi, Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan sebagai proses di mana anak-anak adalah pusat, dan guru memiliki peran sebagai contoh, pemberi semangat, dan pendamping yang mendukung perkembangan anak sesuai dengan inisiatifnya sendiri


Minggu, 21 Juni 2020

Cara Membuat Game Mencari Kata menggunakan Quick App Ninja

Halo Semuanya

Assalamualaikum

Pada postingan kali ini saya akan menjelaskan tutorial membuat game susun kata menggunakan Quick App Ninja , pada postingan sebelumnya saya sudah memperlihatkan game susun kata tentang Gelombang pada materi fisika. oke langsung saja simak prosedur pembuatannya yaa...

1. Pertama kalian masuk ke alamat https://quickappninja.com/
2. Jika kalian belum mempunyai akun pada alamat tersebut kalian bisa pilih registrasi now ! pada sisi kanan atas, kalian juga bisa login langsung menggunakan email google.
3. Pilih create new game
4. kalian bisa pilih type template game sesuai dengan game akan kalian buat, karena saya membuat game susun kata, saya pilih template game find words

5. Terdapat beberapa langkah dalam membuat  game yang akan dibuat langkah pertama adalah mendesain tampilah game
pada bagian sebelah kanan kalian bisa mengganti background pada tampilan awal game atau splash dengan pilihan warna, pattern atau gambar yang kalian uploud sendiri, begitupun pada tampilan menu, Gamepay, dan lainnya
6. langkah ke 2 adalah mengantur konten game yang akan kalian buat, kalian biasa kata yang akan dicari pada setiap level
kalian dapat menuliskan huruf pada setiap lingkaran , tentunya hruf yang ditulis sesuai dengan kata yang akan kalian bentuk menjadi susuna kata yang akan dicari, setelah menuliskannya kalian bisa menaruh kunci jawabannya pada define word.
7. langkah ketiga adalah mengatur suara pada game, kalian bisa mengaturnya sendiri, bisa menguplod suara dari file laptop atau menggunakan suara yang sudah ada pada aplikasi quick app ninja
8. Langkah ke empat adalah memilih icon untuk game yang kalian buat, bisa menggunakan icon yang sudah disediakan, atau menggunakan gambar yang kalian upload sendiri
9. Langkah ke lima adalah settings atau pengaturan, kalian biasa mengatur nama game dan email yang mendukung game kalian,
10. langkah ke enam adalah monetization, kalian harus memonetization game yang sudah kalian buat, saya pilih adMob by google
11. Cara memonitization dengan menggunakan adMob google
- pergi ke adMob google pada pencarian google https://apps.admob.com
- kalian dapat login adMob sesuai email yang kalian sertakan pada quick app ninja
- pada bagian aplikasi, kalian pilih tambahkan aplikasi, jika apk game yang dibuat blm diupload ke google play store, maka pilih tidak
- tambahkan informasi game, kemudian pilih TAMBAHKAN
- setelah itu kalian akan mendapat ID aplikasi game yang anda buat, setelah itu kalian pilih BERIKUTNYA BUAT UNIT IKLAN, dan pilih iklan banner
- jika sudah kalian akan diminta untuk menuliskan Nama unit iklan, kalian bisa mengisi seperti dibawah ini
- setelah itu kalian akan mendapat data ID aplikasi yang sudah didapat tadi dan ID unit iklan banner seperti gambar yangd ditunjukkan dibawah ini
Data ID ini dapat dipakai untuk memonitizing game  menggunakan adMob pada aplikasi quick app ninja
Jika sudah, maka tampilannya akan seperti ini
12. Langkah ke tujuh kalian adalah menggenerate game yang sudah anda buat, kemudian pilih send,
pemberitahuan proses pembuatan gamenya membutuhkan 24 jam, dan akan dikirim pada email, tapi sebenarnya tidak sampai 24 jam
13. Jika kalian Login quickApp ninja  kembali  kalian bisa melihat data riwayat game yang telah kalian buat, kalian bisa langsung mendownload game, sceenshot game, dan mengeditnya kembali



Terimakasih, semoga bermanfaat !