Memilih menjadi seorang guru bukanlah suatu
kesengajaan, karena sejak kecil profesi guru tidaklah asing bagi saya, figure seorang
guru bukan hanya dikenal lewat guru saya dari sejak TK, namun kedua orang tua
saya juga berprofesi sebagai guru, dan saya rasa menjadi guru adalah profesi
yang sangat mulia karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk dan
mendidik generasi bangsa. Menjadi guru adalah sebuah tantangan, seiring perkembangan
zaman yang semakin modern khususnya teknlogi digital yang semakin canggih dapat
mempengaruhi system pendidikan, maka guru dituntut agar dapat terus belajar
untuk memahami dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan sehingga Pendidikan
dapat berjalan dan selaras dengan perkembangan zaman. Karena bagaimanapun
seorang pendidik memiliki peran penting dalam proses Pendidikan dan tidak
sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi, sebab pendidik adalah manusia yang
dapat memberikan respon secara emosional, menyesuaikan pendekatan berdasarkan
kebutuhan peserta didik, memberikan arahan, mengkonfirmasi kebenaran dan
memberikan evaluasi serta reflesi untuk peserta didik.
Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara pendidikan
adalah proses untuk mengembangkan budi pekerti (atau karakter dan kekuatan
batin), pikiran, dan tubuh anak. Ini berarti pendidikan tidak hanya fokus pada
aspek intelektual, tetapi juga aspek moral dan fisik. Selain
itu, pendidikan juga dipandang sebagai tempat untuk menumbuhkan dan memelihara
budaya yang ada dalam masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan juga
berperan dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban. Ki
Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan alam
dan zaman anak-anak kita. Ini berarti pendidikan harus relevan dengan konteks
sosial, budaya, dan zaman di mana anak-anak kita hidup.
Terakhir, beliau juga menegaskan bahwa proses
tumbuh dan berkembangnya anak tidak sepenuhnya tergantung pada pendidik. Ini
menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses yang melibatkan banyak faktor, tidak
hanya pendidik, tetapi juga lingkungan, masyarakat, dan anak itu sendiri. Jadi,
pada intinya, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah proses holistik yang
melibatkan pengembangan budi pekerti, pikiran, dan tubuh, serta melestarikan
dan mengembangkan budaya, dan harus relevan dengan konteks sosial dan zaman.
Sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya
selama era kolonial Belanda, pada masa itu, pendidikan merupakan bagian dari
politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial. Politik etis adalah
suatu kebijakan yang mencakup aspek pendidikan, irigasi, dan transmigrasi,
dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, sistem
pendidikan pada masa itu hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu, seperti
golongan atas dan calon pegawai, sehingga terjadi diskriminasi. Ini berarti
bahwa akses ke pendidikan tidak merata dan hanya terbatas untuk beberapa
kelompok saja.
Meskipun demikian, pendidikan kolonial berhasil
melahirkan beberapa tokoh terpelajar yang kemudian berperan penting dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Soetomo (pendiri
Budi Utomo), Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara (pendiri Sekolah
Taman Siswa), K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan R.A Kartini (pionir
emansipasi perempuan). Mereka semua berkontribusi dalam perjuangan untuk
melepaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme. Jadi, meskipun pendidikan pada
masa kolonial memiliki banyak kekurangan, seperti diskriminasi, namun juga
memiliki dampak positif dalam melahirkan tokoh-tokoh yang berperan penting
dalam sejarah Indonesia.
Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa,
sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta. Taman
Siswa menjadi simbol kebebasan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Ki Hajar
Dewantara menerapkan "sistem among" dalam pendidikan, yang
menempatkan anak-anak sebagai pusat dalam proses pendidikan. "Among"
dalam bahasa Jawa berarti "mengayomi" atau "memelihara".
Dalam sistem ini, guru atau "pamong" memiliki tiga peran utama yang
diwujudkan dalam prinsip "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa,
dan tutwuri handayani". "Ing ngarsa sung tuladha" berarti
seorang guru harus mampu menjadi contoh yang baik di depan anak didiknya.
"Ing madya mangun karsa" berarti guru harus mampu membangkitkan dan
menumbuhkan minat dan kemauan anak untuk berkembang dan berkarya. Sementara
"tutwuri handayani" berarti guru harus mampu mengikuti dari belakang,
memberikan kebebasan, kesempatan, dan bimbingan agar anak dapat berkembang
sesuai dengan inisiatifnya sendiri. Jadi, Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan
sebagai proses di mana anak-anak adalah pusat, dan guru memiliki peran sebagai
contoh, pemberi semangat, dan pendamping yang mendukung perkembangan anak
sesuai dengan inisiatifnya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar