Kamis, 29 Februari 2024

Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

 




Memilih menjadi seorang guru bukanlah suatu kesengajaan, karena sejak kecil profesi guru tidaklah asing bagi saya, figure seorang guru bukan hanya dikenal lewat guru saya dari sejak TK, namun kedua orang tua saya juga berprofesi sebagai guru, dan saya rasa menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia karena mereka memiliki kesempatan untuk membentuk dan mendidik generasi bangsa. Menjadi guru adalah sebuah tantangan, seiring perkembangan zaman yang semakin modern khususnya teknlogi digital yang semakin canggih dapat mempengaruhi system pendidikan, maka guru dituntut agar dapat terus belajar untuk memahami dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan sehingga Pendidikan dapat berjalan dan selaras dengan perkembangan zaman. Karena bagaimanapun seorang pendidik memiliki peran penting dalam proses Pendidikan dan tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi, sebab pendidik adalah manusia yang dapat memberikan respon secara emosional, menyesuaikan pendekatan berdasarkan kebutuhan peserta didik, memberikan arahan, mengkonfirmasi kebenaran dan memberikan evaluasi serta reflesi untuk peserta didik.

Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah proses untuk mengembangkan budi pekerti (atau karakter dan kekuatan batin), pikiran, dan tubuh anak. Ini berarti pendidikan tidak hanya fokus pada aspek intelektual, tetapi juga aspek moral dan fisik. Selain itu, pendidikan juga dipandang sebagai tempat untuk menumbuhkan dan memelihara budaya yang ada dalam masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan juga berperan dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban. Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan alam dan zaman anak-anak kita. Ini berarti pendidikan harus relevan dengan konteks sosial, budaya, dan zaman di mana anak-anak kita hidup.

Terakhir, beliau juga menegaskan bahwa proses tumbuh dan berkembangnya anak tidak sepenuhnya tergantung pada pendidik. Ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses yang melibatkan banyak faktor, tidak hanya pendidik, tetapi juga lingkungan, masyarakat, dan anak itu sendiri. Jadi, pada intinya, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah proses holistik yang melibatkan pengembangan budi pekerti, pikiran, dan tubuh, serta melestarikan dan mengembangkan budaya, dan harus relevan dengan konteks sosial dan zaman.

Sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya selama era kolonial Belanda, pada masa itu, pendidikan merupakan bagian dari politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial. Politik etis adalah suatu kebijakan yang mencakup aspek pendidikan, irigasi, dan transmigrasi, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, sistem pendidikan pada masa itu hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu, seperti golongan atas dan calon pegawai, sehingga terjadi diskriminasi. Ini berarti bahwa akses ke pendidikan tidak merata dan hanya terbatas untuk beberapa kelompok saja. 

Meskipun demikian, pendidikan kolonial berhasil melahirkan beberapa tokoh terpelajar yang kemudian berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Soetomo (pendiri Budi Utomo), Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara (pendiri Sekolah Taman Siswa), K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan R.A Kartini (pionir emansipasi perempuan). Mereka semua berkontribusi dalam perjuangan untuk melepaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme. Jadi, meskipun pendidikan pada masa kolonial memiliki banyak kekurangan, seperti diskriminasi, namun juga memiliki dampak positif dalam melahirkan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. 

Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi simbol kebebasan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara menerapkan "sistem among" dalam pendidikan, yang menempatkan anak-anak sebagai pusat dalam proses pendidikan. "Among" dalam bahasa Jawa berarti "mengayomi" atau "memelihara". Dalam sistem ini, guru atau "pamong" memiliki tiga peran utama yang diwujudkan dalam prinsip "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani". "Ing ngarsa sung tuladha" berarti seorang guru harus mampu menjadi contoh yang baik di depan anak didiknya. "Ing madya mangun karsa" berarti guru harus mampu membangkitkan dan menumbuhkan minat dan kemauan anak untuk berkembang dan berkarya. Sementara "tutwuri handayani" berarti guru harus mampu mengikuti dari belakang, memberikan kebebasan, kesempatan, dan bimbingan agar anak dapat berkembang sesuai dengan inisiatifnya sendiri. Jadi, Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan sebagai proses di mana anak-anak adalah pusat, dan guru memiliki peran sebagai contoh, pemberi semangat, dan pendamping yang mendukung perkembangan anak sesuai dengan inisiatifnya sendiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar